Luka Terpaut
Luka Terpaut
Oleh: Ledia Dziyan
Seperti biasa,
kau selalu bercerita apa saja terhadap ku. Bahkan kejadian konyol seperti
menjatuhkan pensil dikelas pun tak ketinggalan kau ceritakan. Dan satu cerita
yang tak pernah kau lupakan, tentang masalalu mu. Tentang tawa bahagia mu bersama
seorang pria yang sangat kau sayangi. Walaupun kau selalu tertawa, berusaha
terlihat bahagia tapi aku masih dapat melihat perasaan mu yang sebenarnya
bahkan dengan mata terpejam. Masih teringat jelas saat terakhir kita berjumpa,
tepatnya minggu lalu. Bagaimana cara kau menceritakan setiap perilaku manisnya,
dan sesekali kau memejamkan mata seakan membanyangkan setiap kenangan yang
pernah kau lewati hingga akhirnya mulut kecil mu mengeluarkan tawa yang hambar.
“haha sudah, lupakan cerita ku” kata mu sambil tertawa penuh luka
Padahal kau sudah putus tiga tahun lamanya, namun dari cara
bercerita mu seakan-akan kau baru putus kemarin sore. Hmm.. terkadang hati ku
pilu ketika mendengar cerita-cerita mu itu. Aku tahu betapa menyakitkan
ditinggalkan seseorang yang sangat kita sayangi, apalagi kau dengannya sudah
menjalin hubungan selama tiga tahun. Namun disaat angan mu terus terbang
membayangkan kebahagiaan yang pernah diberikannya kau tak pernah sadar betapa
luka akan terus menarik mu hingga ke jurang tiada berdasar. Aku pun tahu betapa
kau sangat merindukan tawanya, menginginkan menjalankan kembali setiap moment
yang pernah dilewati bersama. Dan pastinya membawa masalalu mu kedalam hidup
yang lebih nyata.
“hei, ko bengong aja sih. Ada yang dipikirin ?”
“ah tidak. Aku hanya suka ketika melihat kau tertawa seperti itu. Sekarang
siapa yang bisa membuat sahabatku terlihat bahagia seperti ini ? “ kata ku
sedikit menggoda
“seorang pria. Tapi aku tak yakin apakah dia akan bisa membuatku
nyaman”
“pria yang kemarin ?” kata ku penasaran
“ah, bukan. Tapi ini teman kampus ku. Kau belum tahu yang mana
orangnya. Aku lupa bercerita padamu. Habisnya kau sibuk terus sih minggu-minggu
ini, mau lihat fotonya?” kata mu sambil menunjukan foto itu
Inilah bukti pintarya sahabat ku, walaupun hatinya terluka tapi
untungnya dia tidak dibutakan oleh rasa sakit hati. Dia masih membuka pintu
kepada cinta, tak pernah lelah berjalan mencari kebahagiaan, membuka hati
terhadap orang-orang yang bisa membuatnya tertawa. Namun tetap saja, jika tawa
mu terdengar hambar, sejenak ku pikir kau lupa bagamana caranya menangis hingga
berusaha menggantikan perasaan sedih mu dengan tertawa pilu.
“hei, kau.”
“ya” kata mu sambil terus menatap layar handphone
“semoga pria itu, bisa mengobati luka mu”
Saat mendengar perkataan ku, kau menoleh sebentar kearah ku dan
seperti biasanya mengunkit lagi masalalu mu. Kali ini, kau membandingkan
prilaku pria itu dengan mantan mu. Kalimat-kalimat perbandingan dimulai dari
ketikan huruf sms hingga nada dan cara bicaranya kau bandingkan juga. Kau
ceritakan perhatian-perhatian kecil pria itu kepada ku. Namun yang ku tangkap,
perhatiaanya malah membuat kau merindukan lagi sosok luka mu. Tidak hanya dari
perilakunya saja yang kau bandingkan, fisik yang menjadi ciri utama seorang
manusia pun tak kalah kau bandingkan. Secara detali kau sebutkan, jika mantan
mu dulu kulitnya sawo matang dan yang ini terlihat putih bersih. Matanya tak
teduh yang ini selalu bersinar semangat. Kalimat terkahir yang kau ucapkan
dengan nada terdengar kecewa, mungkin karena kau menginginkan mata seperti pria
yang kau sayangi.
“apakah ini akan menjadi obat luka ku?”
“entahlah. Tapi yang pasti jangan kau bandingkan terus setiap pria
yang ingin mendekati dengan mantan mu. Lagi pula tak akan ada orang yang sama
percisnya. Bukannya kau sakit hati terhadap mantan mu itu ?”
“ah benar, kau memang selalu benar.. ya, ya aku tidak akan
membandingkannya lagi.” Kata mu sambil mengibaskan tangan
Pembicaraan ku dengannya berakhir dengan kata move on darinya yang
tak pernah aku percaya. Di iringi kilauan jingga di langit sore, aku hanya bisa
menghela nafas dan selalu berharap lukanya akan segera mengering dan tak perlu
berbekas.
***
Hari-hari ku selalu dipenuhi dengan setumpuk tugas dari Dosen mata
kuliah. Ah sepertinya memang terlalu berlebihan jika aku mengeluh tentang hal
itu, memang sudah kewajibanku sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas yang
diberikan setiap Dosen tapi terkadang tugas-tugas yang diberikan tak pernah
memikirkan kedaan mahasiswa (hehe). Perjuangan terjaga semalaman, mencari
puluhan referensi tapi akhirnya harus direfisi, sedikit keterlaluan belum lagi
tugas yang lainnya. Impian berada ditempat sejuk nan tenang pun sepertinya
harus bersabar hingga dua minggu kedepan.
Tettt..tettt.. tiba-tiba bunyi pesan masuk berdering menangguhkan
langahku menuju perpustakaan fakultas. Ku baca isi pesan masuk itu dan ternyata
dari sahabat ku. Memang sudah dua pekan ini, aku tidak berkunjung ke rumah
sahabatku itu. Dan kali ini di pesan masuknya untuk dia memberitahu akan
berkunjung ke rumah ku sehabis magrib.
***
Langit malam tetap terlihat
indah, dengan hiasan sinar putih yang berkelap-kelip. Lampu-lampu malam
disetiap rumah pun bersinar terang seperti tak ingin kalah dengan sinar alam
diatas sana. Jalanan nampak terlihat sepi tak seperti biasanya, menambah syahdu
suasana malam. Sesekali angin bertiup nakal memainkan ujung rambut ku yang
sengaja ku gerai. Malam hari selepas magrib memang biasa aku lewati dengan
duduk diatas loteng rumah. Loteng rumah ku memang tidak terlalu tinngi tapi
jika diam disini akan cukup jika ingin melihat pemandangan tempat tinggalku
apalagi jika malam seperti ini loteng rumah dijadikan alternatif tempat yang
nyaman untuk sekedar melihat lampu-lampu malam dan jika beruntung, kau akan
mendapatkan beberapa lukisan alam seperti bintang, bulan dan beberapa warna
indah yang ikut menggoreskan langit. Saat melihat lukisan sang Pencipta, tak
lupa aku bersyukur karena diberi kesempatan hidup dialam semesta yang indah
ini.
“hei, tadi aku ke kamar mu. Ternyata kamu disini”
“dikamar sumpek, bosan jika harus terus melihat tumpukan kertas”
kata ku
Kau duduk disamping ku, sambil memeluk lututmu. Tak kata satu pun kau
keluarkan. Dinginnya malam ternyata membawa pengaruh terhadap kami berdua.
Pandangan kau pun tak pernah lepas dari langit dan sinarnya. Kebekuan terus
menguasai suasana hingga ku putuskan untuk memulai pembicaraan dengan mu.
“ada apa kau ingin bertemu denganku”
“tak ada apa-apa. Memangnya tak boleh jika aku berkenjung ke rumah
mu. Bukannya kita ini teman kan?”
“bukan itu maksud ku. tapi biasanya kau jika ingin bertemu pasti
ada suatu masalah yang ingin kau ceritakan”
“iya sih. Sepertinya kau selalu tahu apa yang aku inginkan”
Kau bercerita tentang pria yang kau tunjukan kepada ku waktu itu.
Menurut penuturan mu pria itu mengungkapkan perasaan suka kepada mu tanpa kau
duga. Dan sekarang kau menjadi bingung bagaimana menanggapi perasaannya. Aneh
sekali memang, tak seperti biasanya kau meminta pendapat ku tentang bagaimana
cara menanggapi penarasaan suka seseorang. Padahal yang ku ketahui kau itu
sangat pintar dalam berinteraksi soaisal dan selalu mengetahui cara agar tidak
menyakiti perasaan orang lain. Saat bercerita kali ini pun, senyum mampu
terlukis di bibir mu. Sepertinya kau mulai melupakan luka itu, dan hendak
menggantikan posisinya dengan pria ini. Tapi jika dilihat lagi sorot mata mu
tetap memberitahu sebuah keraguan, sorot mata sedih seperti tak puas akan
sesuatu.
“itu terserah kau saja. Kalo suka ya terima” kata ku tulus
“tapi bagaimana ya. Aku memang suka dan nyaman dekat dengannya tapi
aku tak ingin jika harus ada hubungan seperti pacaran”
“ya kalo begitu, katakan saja. Memangnya apa yang membuat mu ragu
terhadap pria itu ? dari cerita-cerita mu seperttinya dia pria yang baik”
“tak tahu. Aku sendiri belum bisa mendapatkan jawaban keraguan itu.
tapi masalahnya dia selalu ingin mendapatkan jawaban pasti dari ku.”
“ya sudah jawab saja, temenan dulu”
“ah tidak bisa, aku takut jika nanti setelah mendengar jawaban
teman dariku dia pergi” katanya dengan suara lirih
“terima” kata ku singkat
“terima ? dia memang pria yang berbeda ada satu kalimat yang
membuatku suka ketika ucapannya sama dengan..”
“mantan mu kan?” ku lanjutkan saja tanpa menoleh ke arahnya
Kau pun hanya mengangguk lesu, mata mu menerawang jauh ke dalam
kenangan lagi. Masa lalu selalu dapat menghentikan kebahagiaan baru yang
menghampiri hidup mu. Dengan hati-hati kau ceritakan lagi pria itu, seorang
pria yang mampu menyita waktu mu. Seorang pria yang menyebabkan mu hidup dalam
banyangan semu. Namun tetap saja perasaan mu kepadanya selalu sama, suka sayang
dan cinta.
“kau tak lupa kan dia itu memiliki wanita lagi selalin dirimu ?”
kata ku tegas mengingatkan berhentilah mengingat dia.
“ya, tapi aku tetap menyukainya. Memang sakit rasanya jika aku
sedang membayangkan sikap manisnya lalu tertawa, tiba-tiba banyangan hitam itu
muncul ketika aku tahu ada wanita lain. Air mata ku pun selalu bisa menerobos
keluar saat membayangkannya.. ” dengan suara serak
“jika kau tahu itu kenapa harus tetap mempertahankan perasaan mu.”
“kau tak mengerti isi hati ku”
“menurutku ku kebahagiaan dari pria baru itu nyata, dia bisa
menjadi obat untuk luka mu. Kenangan itu bagian dari masalalu yang tak akan
bisa menjadi nyata, bahkan jka kau terus saja mengingatnya kepingan-kepingan
kenangan manis itu selalu berakhir menjadi luka. Selama ini kaunya saja yang
tak ingin meninggalkan kubangan luka”
Seolah kalah telak, kau terdiam mematung. Apa benar perasaan cinta
mampu membuat orang menjadi keras kepala dan mempertahankan perasaannya
walaupun itu sakit. Cinta tulus mu seolah seperti sebait kata dalam puisi karya
penyair ternama, Kahlil Gibran
Adalah ketika dia tidak mempedulikan mu
Dan kamu masih menunggunya dengan setia.
#Cinta Sejati (Kahlil Gibran)
Jubah hitam semakin pekat, namun gemerlap cahaya bintang
menyiratkan sebuah perasaan yang sama dengan ku, malam ini langit pun tak menampakan
ibanya. Hanya memandang kaku, dan memberikan ruang pada seorang wanita yang
menangis karena lukanya.


Komentar
Posting Komentar