Dermaga Part 1
![]() |
| sumber gambar: pinterest. |
Ini
adalah cerita sebuah dermaga tua yang belum usang dan tetap hidup dengan cerita
yang dituliskan oleh setiap orang yang melewatinya. Ini adalah cerita dermaga
yang tetap setia menunggu para perahu untuk singgah atau sekedar menepi
sebentar sebelum melakukan perjalan panjang. Puluhan tahun dermaga ini menjadi
pusat perhatian kota kecil yang aku tinggali. Puluhan kapal juga pernah singgah
dengan membawa ribuan penumpang atau barang untuk menetap. Dan bagiku, dermaga
ini seperti tempat penantian dan penyimpanan harapan manis. Sebuah harapan kecil agar
suatu saat aku dapat bertemu kembali dengannya. Dengan seseorang yang pernah
mengenalkanku pada impian.
Tiga
belas tahun bukan waktu yang singakat untuk melupakan apa yang pernah terjadi
di kehidupanku. Entah itu tentang tawa, duka, riang, atau bahkan yang memilukan
seperti luka. Bukan pula waktu yang singkat untuk melupakan orang-orang yang
pernah singgah dikehidupanku, entah itu karena berjalanannya waktu atau memang sengaja
ingin dilupakan. Di dermaga ini ada ceritaku yang tak pernah berhenti berharap
akan sebuah impian yang besar yang tak tahu bisa terwujud atau akan
tergantikan dengan peluang yang baru. Waktu itu, kira-kira usiaku sepuluh
tahun saat pertama kali berjumpa dengannya. Masih ku ingat ada satu keluarga
yang turun dari sebuah kapal kota Jakarta. Kota yang sangat terkenal di telinga
anak pulau ini karena katanya disana kehidupan sudah sangatlah maju. Banyak
gedung-gedung pencakar langit, bangunan sekolah yang indah, serta sangat mudah
menjumpai seorang dokter, tidak seperti di desa
ini.
Memang
pemandangan seperti itu bukan pertama kali yang pernah kulihat. Pada suatu
waktu akan ada para transmigran yang berdatangan ke desa kami. Mereka akan
membawa pengaruh baru, menciptakan lapangan usaha dan tidak sedikit pula
orang-orang desa ku yang bekerja pada para transmigran tersebut. Namun
pemandangan kali ini sedikit menyita perhatiaanku, yaitu kepada salah satu
keluarga yang turun dengan seorang anak laki-laki, dia kira-kira lebih tinggi
empat jengkal tangan dariku, warna kulitnya sawo matang dengan bola mata yang
kecoklatan, serta tangganya yang sibuk membawa beberapa buku seperi orang yang
takut kehilangan akan harta berharganya. Sungguh ini pemandangan yang menarik sekali
bagiku, karena biasannya pada usia-usia seperti kami buku itu hal yang
membosankan. Apalagi untuk seorang anak laki-laki, mereka akan tertarik pada
bola dan mainan sejenisnya. Tapi anak itu, entah kenapa dia sepertinya tidak
mau memberikan buku-buku itu ketangan kuli angkut yang sudah tugasnya mengejar
upah dengan membawa barang-barang milik para penumpang. Dia malah membawa
buku-bukunya dengan satu tangan karena tangan lainnya memegang tangan ibunya.
Dan disinilah
awal kisah ku tertulis, pada sebuah dermaga kecil yang siap menampung semua
cerita yang akan aku buat.
Ku
edarkan kembali pandangaanku kesetiap penjuru dermaga ini. Dipayungi langit
kemerahan, aku tetap bertahan, berdiri sendiri menanti harap. Berharap kujumpai
lagi seseorang sepertinya. Seseorang yang terus menceritakan sebuah dunia yang
luas dengan pemahaman bahwa setiap manusia haruslah memiliki sebuah tujuan
dalam hidupnya. Dan dia pun menyatakan bahwa aku harus mempunyai sebuah impian
agar tetap semangat bertahan hidup. Hingga cerita-ceritanya itu mampu membuat
gadis desa sepertiku berani memulai impiannya.
Saat
itu, disebuah sekolah yang sangat sederhana. Anak-nak kecil dengan seragam
merah putihnya berlarian kesana-kemari berebut bola. Di pinggir-pinggirnya ada
yang bermain petak umpet atau menikmati makan siangnnya sambil melihat ke arah
permainan dan sebagian lagi hanya mengobrol dan tertawa bersama teman-temannya.
Suasana istirahat di sekolah ku memang setiap harinya akan seperti itu.
digunakan untuk bermain dengan tujuan melepas penat karena lelah dengan
pelajaran. Tapi tunggu, ada yang berbeda di bawah pohon itu, ada seorang anak
laki-laki yang sedang duduk dengan bukunya. Wajahnya tenang, dengan mata yang tak
mau beranjak dari buku yang entah berisi apa. Ku amati lagi dengan lebih teliti
wajah dan perwakannya. Betapa senangnya saat kutahu dia seorang anak yang
kulihat dipelabuhan dua hari yang lalu. Tanpa pikir panjang ku dekati dia,
kuamati secara dekat buku apa yang sedang dia baca.
“boleh
aku duduk disini ?”
“hm”
katanya sambil terus menatap buku tersebut.
“murid
baru ya ? kenalkan aku Lina, warga asli desa ini. Kau siapa ?”
“Riko.
Pindahan dari Jakarta.”
Setelah
dia menyebutkan namanya, dia beranjak pergi meninggalkan ku yang masih
penasaran dengan sosoknya. Ya walaupun dia terkesan dingin, tapi aku selalu
suka ketika melihat wajah tenangnya saat membaca. Dan sejak siang itu, awal pertemuan
resmi kami yang berlanjut pada hari-hari berikutnya. Karena pada saat istirahat
aku selalu duduk disampingnya dengan harapan dia mau membagi cerita tentang
kehidupannya di kota dulu.
“katanya
di Jakarta banyak gedung bertingkat samapai kelangit ya ?”
“ada,
beberapa”
“apa
sekolahnya seperti ini ? atau katanya sangat bagus, dan jika malam hari
jalan-jalannya tetap terang karena lampu-lampu yang besar. Benarkah ?”
“hmm..
iya”
“di
Jakarta jika orang bertanya dijawab hm ?” kata ku yang sedikit menirukan
gayanya. Dan ini sontak membuatnya menengok sambil menutup buku yang setadari
tadi lebih menarik perhatiaanya daripada aku.
“sebenarnya
kau ini mau apa ? dari kemarin selalu duduk disini ?” pertanyaan pertamanya
pada ku setelah dua minggu aku terus mendekatinya dan duduk soakrab.
Aku pun
bercerita bahwa sebenarnya aku sudah melihatnya saat dia turun dari pelabuhan
sore itu. Aku selalu suka diam melihat orang-orang yang baru dengan semua gaya
yang berbeda mereka. Dan lebih dari itu, aku selalu suka ketika ada orang yang
berbicara tengtang kota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Sungguh, aku ingin
pergi kesana dan melihat sendiri bagaimana hebatnya sebuah kota yang mempunyai
banyak gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bukankah itu terdengar hebat, ada
sebuah bangunan yang tingginya hampir menyerupai menara seperti di
dongeng-dongeng yang menjulang tinggi. Selebihnya alasan ku mendekati mu karena
aku penasaran dengan buku yang kau pegang itu. Apakah begitu menarik, sehingga
tak pernah lepas dari tanganmu.
“hahaha..
jadi kau ingin melihat gedung yang tinggi. Apa itu impianmu ?”
“impian
? maksudnya ?”
“maksudku,
apa melihat gedung-gedung tinggi itu tujuan hidup mu ?”
“oh.
Mm.. iya” jawabku sedikit ragu, karena tidak mengerti dengan pertanyaannya.
“impian
itu haruslah mempunyai manfaat bagi orang lain. Jika impian mu hanya ingin melihat
gedung tinggi, apa baiknya untuk orang sekitar ?. hahaa. Dan kau ingin tahu apa
isi buku ini ? ini adalah buku yang berisi impianku, tujuan hidupku yang harus
terlaksana” katanya seraya pergi meninggalkanku yang tidak mengerti akan maksud
pembicaraannya.
Tiga belas tahun yang lalu, usiaku masih sepuluh tahun. Usia anak sd yang masih
belum mengerti akan sebuah tujuan hidup di dunia ini. Usia anak sd yang masih berpikir bahwa hidup ini untuk bersenang-bersenang, usia anak sd yang jika sedih atau menangis hanya karena mainannya direbut orang orang lain, dan usia anak sd yang belum berpikir bahwa di depan sana jalan kehidupan sangatlah terjal dan berbatu. Tapi anak itu, secara tidak langsung dia membuka sedikit cahaya untuk jalanku. Seperti sebuah pohon yang tegak berdiri tanpa terpaan angin, dia tumbuhkan ranting-ranting kecil yang siap untuk menggantung impianku untuk hari esok.
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar