Still In My Heart
Kamis, 12 Nopember 2015.
Tahun 2015, tak terasa sudah tiga
tahun lamanya aku tetap setia pada tulisan ini. Menceritakan segalanya tentang
isi hati ku, untuk siapa lagi jika bukan untuk mu. Orang yang katanya ingin
menjadi Lembayung ku. Orang yang pernah memanggil ku dengan sebutan mutiara.
Rasanya baru seperti kemarin, saat aku berkenalan dengan mu tapi nyatanya sudah
tiga tahun ya. Hmm.. waktu memang terasa selalu berjalan cepat jika itu berhubungan
dengan mu. Dan sekarang jika ada yang
bertanya apa perasaanku masih seperti dahulu, aku akan tegas mengatakan “IYA”.
Dan malu ? tentu tidak. Karena dengan seiring berjalannya waktu aku semakin
paham jika menyayangi seseorang itu bukanlah sebuah pilihan namun sebuah
anugerah yang patut disyukuri. Bahwa menyayangi seseorang itu bukan untuk
mendapat balasan tapi itu fitrah berasal dari hati masing-masing. Jika dulu aku
selalu berteriak akan sebuah luka yang menurutku begitu menyakitkan, sekarang
aku sudah sedikit bisa bernafas, mencoba menerima kenyataan yang mau tak mau
harus aku hadapi, yaitu tentang pahitnya mendamba tanpa adanya suatu balasan.
Namun dalam hal ini bukan berarti tak pernah patah hati, tapi mencoba
menghargai perasaan satu sama lain, mencoba belajar memandang dari dua sisi dan
mencoba mendamaikan hati sendiri bahwa dengan tetap adanya perasaan ini akan
lebih menguatkan ku untuk kedepannya lagi. Jika ada yang bertanya apa aku ingin
kembali ? memang terkadang, tanpa ku duga rindu selalu hadir, membangkitkan
kenangan lagi dan membawa ku kedalam bayangan jika dahulu pernah ada ada yang
mau menggenggam tanganku, mau membantuku ketika terjatuh, mau menghapus air
mataku, dan mau dengan sabar rela mengorbankan waktunya hanya untuk
mendengarkan ocehan ku. Tapi aku sadar jika itu hanya akan menjadi khayalan saja.
Bahkan jika terus seperti ini mungkin akan terlihat menyedihkan bagi sebagian orang.
Maka jawabnku adalah “TIDAK”. Aku akan mencoba menghargai kehidupannya. Akan
belajar tersenyum ketika tahu jalan apa yang ingin dia tempuh. Dan akan terus
berdoa semoga kebahagiaan akan tetap bersamanya, dan tentunya menyertai orang
yang akan mendapinginya kelak.
Luka memang tidak bisa sembuh dalam
hitungan waktu, namun mencoba untuk menghargai diri sendiri itu harus. Luka
memang tak akan hilang dalam sekejap, tapi membiarkan hati ini untuk dipilih
kembali itu harus, walau tentunya bukan dengan mu. Luka memang sering datang
tanpa kita undang, tapi mencoba untuk tersenyum saat ia datang dan menghargai
kenangan manisnya itu harus dicoba.
Kau dan kenangan, suka tak suka,
memang pertemuan ku dengannya pernah membuatku tersenyum bahkan pernah
menjadikanku berani untuk bermimpi tentang sebuah kebahagiaan sejati. Dan jika
kau tahu, walau ini berakhir meyakitkan tapi aku tak bisa menghapus perasaan
senang karena Tuhan sudah berbaik hati menuliskan pertemuan kita berdua. Untuk
mu, perbaiki hidup, baik-baik, jangan macem-macem, dan semoga apa yang kau
inginkan selalu dimudahkan Nya. Dan aku semakin bersyukur, karena mungkin kau
ditugaskan Tuhan untuk mengajarkanku tentang sebuah kehidupan yang nyata,
tepatnya tentang cinta dan kehilangan.
Dua kata ini memang tak bisa dipisahkan,
dulu aku tak pernah membayangkan jika pada saat aku mengenal cinta maka aku akan
mengenal pula kehilangan. Kupikir kisah cintaku akan seperti dongeng-dongeng
yang ku sukai, berakhir bahagia dengan pangeran cinta pertamanya. Tapi inilah
hidup. Kau datang untuk mengajarkanku itu semua. Tentang bagaimana
mengikhlaskan orang yang kita sayangi untuk menjalankan kehidupannya tanpa
bayang-bayang masalalu. Di dalam kehidupan memang semuanya diciptakan secara
berpasangan. Ketika ada yang datang maka harus ada yang pergi, ketika akan
memilih sesuatu maka harus ada yang dikorbankan. Hidup ini memang terkadang
begitu menakutkan, harapan yang kita buat mungkin tak akan sesuai dengan
kenyataan yang ada. ya seperti harapan ku yang berbanding begitu terbalik
dengan kenyataannya.
Dan untuk kesalahan yang pernah ku
buat, aku akan mengakui semua itu tentang menahan seseorang yang jelas-jelas
sudah ingin membuka lembaran baru pada kehidupannya. Tentang mengejar seseorang
yang jelas-jelas tak pernah mau berhenti atau bahkan menunggu agar dapat
berlari secara bersama. Tentang tersenyum tiap kali melihatnya dan berharap
setidaknya dia mau melihat ke arahku. Karena sekarang aku menyadari bahwa
usahaku itu hanya bisa membuatku terjatuh begitu dalam, bahkan semakin jauh
dari mu.
Pada hari esok, aku akan
berjanji berhenti dari semuanya. Berhenti merangkai cerita memilukan ini,
berhenti menghabiskan waktu untuk menunggu mu, dan berhenti mengecewakan diri
sendiri. Karena sekarang aku ingin mencoba menjadi sayap, terbang berkelana mencari
pengalaman baru lalu singgah pada tempat yang mau menerima.
Membahagiakan diri sendiri
itu yang terbaik, membuka ruang kosong pada hati itu bijaksana. Karena cinta
sejati akan menemukan jalannya sendiri pada hati yang siap untuk disinggahi.
-11-
“plak”
Sebuah tepukan ringan mendarat
dibahuku. Aku pun menengok dan bergegas berdiri sambil menutup surat yang
terselip dalam salah satu buku mata kuliah yang akan kupinjam.
“udah ketemu kan bukunya ? kenapa
masih disini ?”
“tau tuh, mana kaya yang mau
nangis lagi. Emang buku Ekonomi Manajerial isinya kaya novel ? haha” kata
temanku yang lainnya
Aku hanya terenyum menanggapi
komentar teman-teman. Surat siapa ini, kenapa terselip pada buku mata kuliah
seperti ini ?. Entah siapa orang yang dituju dalam surat ini, yang pasti satu lagi pelajaran yang bisa ku ambil. Bahwa hidup ini sejatinya
untuk saling menghargai pada setiap keputusan yang diambil oleh orang lain. Walaupun
dalam keputsannya itu tidak berpihak kepada kita.
“hei, hayo !”


Komentar
Posting Komentar