Maafkanlah !
(sumber gambar: internet)
Malam semakin berlarut, dentingan jam dinding
yang terletak di sebelah tempat tidur semakin terdengar jelas. "Ah..
kuhempaskan nafasku entah yang ke sekian kalinya" sambil merebahkan diri
di atas tempat tidur.
Sebenarnya apa yang ku lakukan hingga larut
malam seperti ini jari jemari ku masih menari di atas keyboard laptop.
Menumpahkan semua yang aku pikirkan, berteriak keras dengan menggunakan deretan
huruf alfabet hingga terkadang mengalir air di pipiku ini. Hati ku pun seolah
tak bisa merasakan apa yang kini terjadi, perasaan senangkah atau harus takut
kembali terisak jika semua ini dilakukan. Apalagi logika ku yang tak mampu
berpikir secara wajar dan jernih.
"Apa ini memaafkan ?" Ucap ku
lirih pada diri sendiri
***
Empat tahun yang lalu, aku pernah mengenal
seorang pria. Dia seumuran dengan ku, berperawakan tinggi dan tentunya
mempunyai sifat hangat yang mampu membuat ku nyaman saat berada di dekatnya.
Tapi itu empat tahun yang lalu, saat semua tentangnya terasa manis, saat semua
tentangnya selalu membuatku bahagia, dan saat semua tentangnya mampu membuat ku
ingin hidup lebih lama di dunia ini. Namun jika kau tanya sekarang apa sama
atau tidak, tentu jauh berbanding terbalik dengan empat tahun yang lalu. Saat
ku harap ini akan berlanjut sampai akhir yang bahagia ternyata hidup
memberikanku cambukan yang keras, menampar semua impian manis saat kutemukan
kenyataan pahit di buang olehnya.
Dan kini, dia dengan polos kembali menyapa ku
lewat salah satu akun media sosial. Bertanya kabar dan membuka obrolan hangat
seolah tak pernah terjadi apa pun antara aku dan nya. Atau mungkin dia sengaja
tak mau mengingat luka ku, dan berharap aku pun tak akan mengingatkannya pada
saat ini.
"Hai hati, apak kabar dengan mu ? Apa kau
baik ? apa kau senang saat disapa olehnya ?”
Tulisku pada word. Pikiranku pun terus
berkelana seolah ingin semuanya kembali seperti dulu, saat aku bisa tertawa
dengan bebas, saat aku selau naif jika membicarakan soal cinta dan percaya
bahwa jatuh cinta dan memiliki pasangan itu sangat mudah layaknya di flm-flm,
dan tentunya saat hati ku tak pernah merasakan luka dan sakit.
“raga yang hampa, raga yang luka
Seketika luluh mendengar sapaan darinya
Hati yang di dingin, bahkan hampir beku
Seketika hangat layaknya mendapat pelukan tulus darinya
Namun, apakah ini nyata atau mimpi ?”
Kututup mata ku perlahan, dengan di iringi lagu yang mengalun dari
radio, ku tenangkan pikiranku yang memaksa ingatanku kembali pada masalalu yang
sangat ingin ku lupakan. Bahkan terkadang jika dadaku sudah mulai terasa sesak,
ingin ku buang ingatan itu dan berharap dia tak pernah muncul pada kehidupanku.
Tapi aku sadar itu semua tak bisa terjadi, karena pertemuan ku dengan nya
mungkin sudah jauh tertulis sebelum ku injakan kaki di dunia ini, ya atas
kuasa-Nya dia hadir pada kehidupanku.
***
Bunyi alarm handphone berdering memecahkan pagi. Ku paksakan
membuka mata karena kantuk yang tidak berkesudahan. Ku lirik semua keadaan
kamar yang terkesan berantakan karena banyak barang yang berserakan seperti
laptop, handphone, gelas, dan beberapa tisu yang ikut menghiasi lantai kamar.
Ku ambil handphone dan saat ku buka, aku langsung teringat kejadian semalam,
alasan kamarku berantakan seperti ini.
Hmmm... masalalu itu hebat ya, bisa membuat orang seperti
kehilangan dirinya sendiri. Melupakan logika dan ikut terhanyut dengan apa yang
menajdikannya bahagia ataupun terluka.
Aku beranikan diri membuka kembali percakapan aku dan dia tadi
malam. Tak bisa di ekspresikan dengan kata jika aku memaknai setiap kalimat
yang dia lontarkannya kepadaku. Begitu ringan, terkesan seperti teman baik yang
sudah lama tidak bertemu. Tak ada pembicaraan apapun yang menyinggung bahwa
setidaknya dia merasa bersalah karena membuat hati seseorang terluka. Atau
mungkin dia memang tidak menyadari itu. Namun yang dianehkan, hati ku tidak
merasakan benci walaupun dengan kehadirannya membuat luka lama kembali perih
dan membutuhkan waktu lagi agar dapat mengering. Apakah ini cinta ? apakah ini
sayang ? hingga mengorbankan persaan diri sendiri demi seseorang dengan tujuan
aku akan membalas setiap pertanyaan yang dia berikan agar dia merasa dihargai
dan tak merasa disakiti.
Ku tutup akun ku, dan kutulis: “memaafkan itu indah, menenangkan
hati, mendamaikan fikiran”. Mungkin sekarang aku belum menyadari jika
sebernanya hati ku telah memaafkannya dari dulu. Terbukti dengan aku bisa
membalas pesannya dengan baik. Karena sekarang akau sadar yang membuat air mata
ini jatuh bukan benci tapi rasa bahagia karena dia sekrang mampu melihatku,
mampu berbicara dengan kalimat baik kepada ku, dan mampu mengatakan kami tetap
saling mengenal. Namun jika terkadang perasaan dapat mengalahkan logika,
menurutku itu wajar karena bagaimana pun menyembuhkan hati itu butuh proses,
butuh waktu hingga bisa kembali murni.
***
Empat tahun memang sudah berlalu, tapi semenjak hadirnya dia ke
dalam hidupku lagi, ingatan tentang luka itu kembali hadir satu persatu bahkan
selalu mengikuti kemana langkah kaki ini digerakan. Satu persatu, dimulai dari
yang manis hingga memilukan. Setiap kali juga luka itu memaksaku untuk tertawa
kemuadian menangis tersedu seperti orang yang sedang memainkan sebuah peran.
Sungguh sangat lelah menjalani hidup seperti ini, tersesat diantara luka dan
menikmatinya ketika sepi. Akankah bisa pulih kembali ?
“hei Nai, sedang apa ? bengong aja nih aku lihat dari tadi” sapa
salah satu teman kampus ku
“eh kau Ra, lagi nunggu dosen pembimbing nih”
“oh, kirain lagi nunggu jodoh. Haha” katanya lagi sambil tertawa
“apaan jodoh, yang ada aku lagi galau nih” jawabku keceplosan
“galau ? galau kenapa ? lagi ada masalah ?”
“eh enggak deh, haha bercanda. Oh iya kamu gak ada kelas ?” jawab
ku mengalihkan pembicaraan
“baru keluar. Nai kalo sore gak ada acara datang ya ke acara kajian
mesjid kampus. Nih brosurnya.
Aku duluan ya Nai, Assalamu’alaikum” Kata temanku
sambil menyerahkan selembar brosur berwarna merah muda dengan tulisan warna
ungu yang terkesan sangat feminim.
Ku tatap kertas merah muda yang sekarang berada di tangan ku ini,
ku lihat tulisan besar di tengah atas kajiannya dan tertera “Kajian Muslimah
Mingguan Universitas Impian”. Brosur ini adalah salah satu kegiatan rutin yang
di adakan salah satu UKM di universitas tempat aku belajar. Dan yang
memberikannya itu dia adalah teman satu jurusan dengan ku, namanya Meira,
seorang mahasiswi cantik yang terkenal tegas, mandiri, dan mempunyai ahlaq yang
luar biasa baik hatinya terhadap semua kalangan. Selain itu Meira pun terkenal
dengan kerudung lebarnya, jadi sangat mudah sekali menemukan Meira di antara
para mahasiswi kampusku karena sangat sedikit perempuan yang memakai jilbab.
Hhmmm... ku edarkan pandangan ke segala arah, sambil sesekali
melihat jam tangan yang kupakai. Rasanya waktu bergerak lambat saat kita
menunggu seseorang. Tak lama kemudian telepon genggamku ku berdering tanda
pesan masuk, ku buka isinya dan ternyata itu dari dosen pembimbing yang
memberikan kabar maaf karena beliau berhalangan untuk menemuiku. Ah, kau tahu
apa rasanya ketika sudah menunggu berjam-jam dan mengetahui itu sia-sia. Rasanya
sangat menyebalkan kan. Huftt...
“hari ini aku menghabiskan waktu untuk menunggu dan mengingat yang
menyakitkan. Sungguh menyebalkan membuang-buang waktu.” Gerutu ku dalam hati.
Ku langkahkan kaki meninggalkan bangku yang sedari tadi aku duduki.
Terdengar suara adzan berkumandang, “oh ya ampun adzan ashar. Hebat. Ya hebat
aku selalu menjadi penunggu yang setia.” Masih dalam kekesalan ku gerakan kaki
ini menuju mesjid kampus yang berada di halaman belakang. Sesampainnya di
mesjid ku ambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Selepasnya sholat, terdengar ada satu pengumuman yang mengajak para muslimah
untuk mengikuti kajian dengan tema memaafkan, disalah satu ruangan mesjid. Saat
mendengar tema memaafkan, segera kucari brosur yang diberikan oleh Meira tadi
dan kubaca brosur itu sangat menarik. Saat ku baca isi brosur tadi, tiba-tiba
saja hati ku tergerak ingin mengikuti acara itu. Lagi pula daripada pulang dan
ke inget luka lagi. Bismillah ku niatkan untuk mengikuti acara tersebut.
***
Di depan pintu masuk acara tersebut, terdapat dua meja kecil dengan
hiasan buku tamu diatasnya. Tak lupa dua penjaga anggun yang mengenakan
kerudung lebar menghiasi meja tersebut dengan senyumnya yang ramah. Saat
langkah kaki mendekat kepada meja terdengar sapaan salam dari dua wanita anggun
tersebut, mereka pun bertanya apakah aku baru pertama kali mengikuti kegiatan
kajian ini, karena mereka baru pertama kali melihat ku. dan tentu saja langsung
kujawab iya dengan ditambahkan ini juga di ajak oleh Meira. Dan mereka langsung
mengangguk tak lupa selalu tersenyum ramah dan berkata “insya Alloh ajakan
Meira ini bermanfaat, terimakasih sudah menyempatkan hadir”. Aku pun hanya
mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ku lirik sekeliling, suasanya sangat tenang walaupun terisi oleh
banyak mahasiswi. Terlhat wajah-wajah tenang dan anggun, mata ku pun terus
berkeliaran mencari sosok Meira, teman yang memberikan brosur ini kepada ku.
“mana Meira, katanya dia ada tapi ko dari tadi aku gak lihat” kata ku dalam hati
Tiba-tiba terdengar sapaan salam dari depan podium, semua peserta
yang hadir langsung melihat ke depan termasuk aku. Ku amati dua mc muslimah
tersebut mereka sangat tenang membawakan acaranya dan sesekali membuat
kata-kata yang lucu agar para perserta tidak merasa bosan, hingga sampai di
acara puncak yaitu kajian yang akan di pimpin oleh ustadjah Annisa. Acara
berlangsung dengan tenang, pertama kali kita di sungguhkan dengan beberapa
vidio tentang pergaulan remaja sekarang, seperti yang sedang menjadi trending
topik di beberapa media sosial yaitu tentang kegalauan para remaja. Aku pun
menonton dan mendengarkan dengan seksama dan sesekali membenarkan apa yang di
sampaikan oleh pembicara tersebut. sampai pada suatu waktu ada seorang audiens
yang bertanya tentang “kak, bagaimana caranya memaafkan seseorang yang telah
menyakiti hati kita dengan ihklas dan agar tidak teringat lagi ?” pertanyaan
singkat namun membuat hati ku teringat akan kejadian diriku sendiri.
“terimaksih atas pertanyaannya. Cara melupakan orang yang telah
menyakiti hati kita itu sebenarnya sangat mudah. Yaitu dengan cara memaafkan
diri sendiri. Ok, kenapa harus memaafkan diri sendiri, karena jika kita merasa
tersakiti oleh orang lain otomotis kita akan merasa membenci orang yang telah
menyakiti hati kita. dan dampaknya, hati kita akan merasa resah, sedih, marah,
ketika melihat orang tersebut. dan jika orang tersebut sadar dia telah
menyakiti hati kita tidak akan terlalu sakit, tapi jika orang itu tidak sadar.
Kita sendiri yang rugi bukan. Misalnya saat jalan dilorong bertemu orang
tersebut yang asalnya suasana baik tapi jadi kesel sendiri, marah-marah gak
jelas sedangkan orang yang merasa kita benci dia baik-baik saja, hidupnya
bahagia bahkan bisa menjadi lebih produktif dari kita. Jadi, lebih baik
memaafkan diri sendiri, karena dengan itu kita bisa memberikan ketenangan pada
hati kita, dan menghargai diri sendiri. Jika sudah tenang, isnya Alloh dengan
rajin kita mendekatkan diri kepada Alloh SWT, rasa sakit itu akan hilang bahkan
kita dapat bersyukur pernah mendapatkan ujian seperti itu.”
(sumber gambar: internet)
Aku bersuyukur, mengikuti kajian ini. Karena sekarang aku tahu,
luka, sakit, yang ku alami hingga sekarang itu karena aku tak mau memaafkan
diri sendiri.
***




Komentar
Posting Komentar