Potongan Puzle Terakhir


(Ilustrasi gambar: internet)
Hari ini aku akan berdamai dengan semuanya. Dengan luka yang melelahkan. Dengan perih yang setiap harinya selalu mengundang untuk terus bisa merasakannya. Dengan sebuah senyum yang terus menggelitik hati ini agar terus teringat tentangnnya.
Jika ku ibaratkan hati ini puzle, maka hati ini belum sempurna. Belum ada wujud yang bisa dilihat. Senangkah atau sedih. Ada potongan kecil yang harus kutemukan dan kutempatkan pada posisi nya. Yaitu tentang kau. Tentang semua yang berhubungan dengan cinta lalu bersimbah luka.
Hidup memang terkadang melelahkan. Memuakan hingga akhirnya aku ingin mengakhiri semuanya. Tapi sekarang, aku tersadar, semuanya bisa diperbaiki, eh atau memang sudah seharusnya diperbaiki. Agar lapang, agar tenang, dan aku akan bisa hidup normal seperti sebelum mengenal mu.
Pada hari ini, aku berjanji akan mengakhiri semuanya, semua duka, semua tawa semu, dan semua yang berhubungan dengan mu.
***
Hmm.. kulirik jam tangan ku entah yang sekian kalinya. Apa benar jalan yang sedang kutempuh ini dengan pergi menemuinya. Tapi hingga sekarang kenapa  orang yang kutunggu tak kunjung tiba. Ku edarkan pandangan ku ke segala arah. Pada meja-meja dan kursi-kursi kosong itu, pada pelayan yang mondar-mandir mengantarkan pesanan, dan pada dua orang yang sepertinya sedang jatuh cinta. mata mereka terlihat berbinar, meneriakan kasih sayang, lalu seakan saling memiliki. Ah.. ceroboh sekali aku membiarkan perasaan ini terus berlanjut hingga hati ku terasa mati.
“hai, maaf aku telat” sapa seorang yang tengah berdiri di depan meja ku
Dia datang dengan gaya maskulinnya. Dengan aroma yang sama, dengan seulas senyum yang sama yang tetap bisa membuat hati ku berdebar kencang.
“eh, iya. Silakan duduk”
Suasana perlahan mulai canggung, entah apa yang terjadi. Seakan atmosfer berubah seketika.  Suasana dingin menjalari tubuhku. Apa kata yang pantas yang harus ku ucapkan. Seketika aku merasa bodoh sekali memulai semua ini.
“hei, ko bengong. Kenapa kamu mengajak bertemu ?” tanyanya yang membuyarkan lamunan ku
“oh itu... mmmm.... ingin saja” jawab ku yang langsung mendapat penyesalan
“pasti ada sesuatu kan ? ayolah kita kan sudah kenal lama”
Ku utarakan maksudku memintanya bertemu. Aku memulai dengan kata maaf. Kata yang mungkin sudah terdengar basi untuk seseorang yang pernah mempunyai hubungan dengan ku lima tahun yang lalu. Tapi bagi ku, waktu bukanlah hal yang bisa membantu semuanya. Ukurannya yang membuat menjadi lama, tapi hati tak menerima ukuran itu. Seberapa lama waktu yang telah berlalu, bila luka itu terlalu menyakitkan, tetap terasa sakit. Bahkan jika sudah teringat akan kejadiannya, seakan luka itu baru terjadi kemarin.
“mungkin aku terdengar berlebihan, selalu menyeret mu pada lembah masalalu. Selalu menyertmu pada kisah hati ku yang menyedihan, selalu mengemis cinta pada orang yang sudah jelas mempunyai kehidupan baru yang lebih menyenangkan. Tapi, semuanya akan berakhir. Aku hanya ingin menyampaiakan apa yang menajdi pikiranku selama ini.  Kau tahu kan, hati tak bisa dibohongi. Seberapa keras aku mencoba agar semuanya terlihat baik, terlihat tak pernah ada apa-apa itu sulit. Maaf kan aku yang tak pernah bisa mengikuti kemauan mu yang ingin kita terlihat seperti tak pernah terjadi sesuatu. Maafkan aku yang terus merasa tersakiti dengan apa yang sedang kau lakukan bersama wanita lain.” Kata ku
“oh, ya. Aku maafkan.” Katanya datar, ya selalu datar bila menjawab pernyataan ku
Kau tahu, aku muak dengan semuanya. Dengan tangisan semalaman yang kulakukan bila teringat dengan mu. dengan tingkah mu yang seolah tak pernah ada apa-apa bila bertemu dengan ku. dengan tingkah mu yang menganggap bahwa sekarang kIta berteman dan semuanya baik-baik saja. Hati ku tak bisa seperti itu, kejadian yang sudah berlalu selalu menajdi bayangan menakutkan. Kau pernah menyakitiku, berlalu begitu saja, dan seenaknya meminta bertemu dengan kata maaf. Lalu seakan kita berteman. Kenapa tak tanyakan “apa perasaan ku sekarang ?” atau “sudah baikkah kau, dan mau menerima pertemanan ku?”.
Tak terasa luapan emosi terus membungkus suasana hati ku, hingga mengalir air mata di pipi. Muak. Aku ingin kembali hidup normal dengan hati yang lapang. Bosan. Jika semuanya harus tentang mu.
“lalu akau harus bagaimana ?” tanya mu
Aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaannya. Karena hati ku menag tidak tahu. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada di pikiranku, yang selama ini ku pendam sendirian. Yang selama ini ku tutupi dengan senyum palsu ku. Dan jujur aku hanya ingin dimengerti. Tangisan ku semakin tak bisa ku bendung. Semuanya seakan berteriak meminta keluar. Meminta dibebaskan. Dan ingatan ku pun kembali pada kejadiannya masalalu, saat kita masih mempunyai hubungan. Saat dulu, jika bertemu akan ada tawa bukan tangis, saat sikap dulunya yang selalu ramah dan peduli terhadap ku. saat semuanya terasa manis hingga aku selalu berharap mungkin dia akan baik kembali.
“hei, ayo jawab. Lalu aku harus bagaimana ?” tanya kembali namun ini dengan nada yang keras
“tak tahu, mungkin kau harus pergi dari kehidupan ku”
“tapi kan kau yang selalu menghubungi terlebih dahulu” katanya lagi dan itu meyebalkan
“iya memang, karena aku suka. Tapi sekarang aku akan mengakhiri semuanya. Ya, aku hanya ingin kau tahu saja isi hati ku. agar kau tak seenaknya dalam bersikap. Aku benci. Sebenci-bencinya. Luka itu nyata, bukan hanya kata yang tertuang dalam kertas. Luka nyaperih, selalu menyayat hati ku hingga rasanya mau mati saja. Membuat nafasku menjadi sesak. Dan aku akan terus menyalahkan diri sendiri atas semua yang pernah terjadi. Apa tidak boleh, meminta kau mengerti. Ini semua karena kau”.
“oke, akan ku turuti keinginan mu. tapi, aku pun sama. Merasa tersakiti juga. Memiliki penyesalan juga”
“memiliki penyesalan, merasa tersakiti. Tapi apa ? aku tak pernah melihat mu merasa  seperti itu. sudahlah intinya, aku ingin mengakhiri ini semua. Selamat tinggal”
(Ilustrasi gambar: internet)
Aku pun melangkahkan kaki pergi dari cafe itu. ya selalu seperti itu jika kami berbicara. Tapi aku janji, ini akan jadi pertemuan terakhir. Potongan puzle ku sudah kutemukan. Yaitu, aku hanya ingin dia tahu sakit yang kurasakan karena sikapnya. Egois ? terserah. Karena luka hanya bisa sembuh oleh orang yang membuat lukanya. Dan untuk masalalu ku, selamat tinggal luka, selamat tinggal pengemis perhatian, dan selamat tinggal kenangan.  

Komentar

Postingan Populer