Sedang Ketakutan
(Ilustrasi gambar: internet)
Terkadang aku merasa berlarian sendiri
Mengikuti layangan yang entah bisa ku terbangkan atau tidak
Terkadang aku merasa menjadi si pemuja
Memang ini bukan kepada berhala yang disembah berkali kali pun tetap mematung
Tapi kepada dia yang dimiliki oleh Tuanya. Yang setidaknya di anugerahi suara untuk berbicara
Terkadang aku merasa anganku menjelajah terlalu dalam
Takut suatu waktu terperangkap dalam semak belukar yang berduri dan siap menusuk apa saja tanpa mengenal "rupa dan kata yang pernah terucap"
Terkadang aku merasa seperti membaca ribuan kalimat asing.
Satu bahasa yang belum pernah ku temui sebelumnya.
Lalu berharap ada yang memberiku buku terjemahan dengan percuma.
Tapi yang baiknya; untuk semua rasa gelisah, aku harus tetap bersyukur bukan ?
Tentu ini untuk Tuanmu.
Eh tapi sisanya akan kubagi untuk mu juga; terimakasih sudah memperbolehkan aku untuk mengenalmu.
Ledia,
Bulan ke tiga di tahun dua ribu delapan belas di Rancaekek.



Komentar
Posting Komentar