Hug Me
Satu cerita lucu tadi pagi, didekat lemari kamar tiba-tiba kutemukan semangkuk kecil garam dan dua siung bawah putih. Ternyata dimata seorang ibu anaknya ini masih dianggap seperti seorang bayi, ringkih dan butuh perlindungan. Entah apa yang terlintas dipikirannya ketika meletakan mangkuk kecil itu. Tapi mungkin melihat aku selalu terbangun ditengah malam karena alasan kesakitan membuatnya khawatir. Padahal diluar sana, orang-orang selalu melihat ku dengan penuh rasa cemas dan ketakutan. Katanya terlalu berani untuk ukuran perempuan. Mulut perempuan seharusnya mengucapkan kata "iya" saja. Kata mereka. Tapi dimata ibu ku, aku ringkih butuh perlindungan.
Satu cerita lucu, dimana ketika biasanya orang-orang membiarkan aku pulang larut malam tanpa pengawasan karena alasan "ah, Ledia. Hantu pun takut". Tapi dimata ibu ku, sudah masuk berpuluh-puluh pertanyaan cemas kedalam handphone ku, "bagaimana kamu pulang ?. atau sekedar menelpon dan berkata, "besok lagi atuh kaya ga ada hari lain". Ibu, memang pelindung nomor satu.
Diantara kebanyakan orang yang selalu acuh tak acuh ketika aku mengerjakan banyak hal. Tapi didalam rumah, menyisir saja aku minta bantuan ibu ku. Lagi-lagi ibu selalu jadi penolong utama. Seberapa "bisanya" kamu dimata orang lain. Seantagonisnya kamu dipandang oleh orang lain. Dimata ibu aku anak kecil yang selalu butuh peta untuk tau arah pulang.
Sore itu, ibu menghampiri kamar ku dan duduk disebelah ranjang tempat tidur. Saat ku tatap lekat wajahnya, ternyata aku yang tak pernah sadar bahwa kehidupan sudah berjalan sejauh ini. Sudah berapa banyak goresan diwajah teduhnya. Ibu, aku tak pernah bisa mengutarakan apa yang aku rasa jika itu kepada mu. Tapi semoga, semua yang kau rafal tiap malam didengar oleh Nya.
Dimata ibu ku, aku anak yang ringkih dan butuh perlindungan.
(doc.pribadi)



Komentar
Posting Komentar