Hujan Tak Berbekas
Hujan
Tak Berbekas
Oleh
: Ledia Dziyan
Pemandangan yang tampak seperti biasa.
Jalanan licin, pepohonan dan gedung terlihat basah oleh hujan yang turun. Bulan
February memang sedang musim hujan, jadi hampir setiap sore kota Bandung di
guyur hujan. Bahkan saking derasnya bisa menimbulkan kemacetan karena di
beberapa ruas jalan terkena banjir.
Hmm,
hari ini hujan lagi. Aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Ku percepat
langkah karena ada yang sudah menunggu di luar gerbang. Kerang ku, pemilik hati
ku.
“ayo
cepat” ajak seorang pria yang berada di atas motor berwarna hitam
“iya”
jawabku sambil tersenyum
Motor
melaju melewati rintikan hujan yang masih tersisa. Dingin. Tapi bagi ku ini
merupakan hal paling menyenangkan berjalan melewati hujan.
***
Setibanya
di dalam kamar ku ambil diary dan pena
Dear
diary,
Kau
tahu, hari ini hujan tetap menghiasi hari ku. tentu dengan adanya seorang
kerang. aku semakin menyukai hujan dan kerang J
Kututup
buku diary itu dengan senyuman. Hmm, benar-benar menyenagkan kataku dalam hati.
Tettttettttettt..
tiba-tiba terdengar suara tanda pesan masuk. Segera ku ambil hand phone yang
berada di atas meja kecil sebelah tempat tidur dan tertera nama dia.
To : Rinai
Good night and have a nice dream,
mutiara ku ;)
Inilah
yang aku suka dari dia, hal-hal kecil bisa menjadi luar biasa, seperti ucapan
tidur. Walaupun hal ini sederhana tapi dia tak pernah lupa untuk mengucapkannya
padaku. Hmmm aku merasa beruntung, ada orang yang menyayangiku. Aku pun segera
membalas pesannya.
To: Rain
Good night and have a nice dream,
kerang ku ;)
***
Minggu pagi ku habiskan waktu untuk
membantu pekerjaan ibu di rumah. Di mulai dengan membersihkan kamar sendiri,
ruang tengah, dapur, ruang tamu dan menyapu halaman depan. Setelah selesai
dengan pekerjaan minggu ku, aku pergi mandi dan membereskan semua tugas
sekolah. Karena sore nanti aku akan bertemu dia, siapa lagi kalau bukan kerang
ku. Aku menyukai saat-saat seperti ini, menunggu kehadirannya dan biasanya dia
akan tersenyum kala melihat aku sudah datang terlebih dahulu. Belum sampai lima
menit aku menunggunya dia sudah datang. Seperti yang aku perkirakan, hari ini
pun dia memberikan senyuman tulusnya untuk ku ketika aku sudah sampai duluan.
“mau
pergi kemana kita?”
“aku akan membawa mu
ketempat yang pasti kau suka” katanya dengan nada misterius.
Aku
hanya tersenyum mendengar jawabanya. Motor hitam pun melaju secara perlahan di
atas jalanan, belum sampai pada tempat yang dituju, gerimis mulai muncul dan
menandakan bahwa hujan akan segera turun.
“mau
kemana kita?” ku ulangi pertanyaanku tadi. Tapi dia hanya tersenyum simpul dan
mengatakan “tenang saja, aku tak akan menculik mu”. Motor yang aku tumpangi
perlahan kecepatanya menurun dan berhenti di samping pohon yang rindang. Aku
tak mengerti kenapa dia menghentikan motor di pinggir jalan, maksudnya pinggir
jalan ini tempat istimewa itu ?.
“turun”
katanya pelan
“sudah
sampai” kata ku polos
Dia mengatakan kita berteduh dulu,
hujannya semakin deras. Dan dia juga mengatakan bahwa dia tak mau jika aku
sakit. Aku tersenyum lalu turun dari motornya dan berdiri di sebelah dia. Kami
mendengarkan irama yang tercipta dari hujan, sesekali kami saling berpandangan
lalu tersenyum. Ya, hujan selalu menahan aku dan dia untuk lebih lama,
menikmati rintikannya yang seperti detak jantung kami berdua, mengamati setiap
butiranya dan ikut bahagia seperti bunga-bunga yang disiram air.
Sudah 30 menit kami berteduh dan sekang
kami kembali menaiki motor hitam dan melaju melewati jalanan yang basah. Di
jalan aku mendengarkan kata-katanya, “kerang berdiri di tengah hamparan pasir
yang sangat luas dan di situ pula mutiara hadir mendampinginya dengan membawa
sepercik harapan dan di ubahnya menjadi kenyataan ”. Saat dia mengatakan
kalimat ini, harapan dan impian untuk bisa bersama semakin kuat, dia bawa
harapan ku terbang, aku senang mendengarnya. Dan kalimat ini pula yang
menjadikan dia memanggilku mutiara, dan aku memanggilnya kerang. Aku berharap
kalimat itu bisa menjadi kenyataan bukan hanya ucapan manis yang nantinya kan
berubah menjadi tangisan.
Motor hitam terus melaju membawa
penumpangnya semakin jauh dari tempat asal, dalam hati ku bertanya-tanya mau
kemana ini. Perjalanan yang menyenangkan karena sepanjang jalan aku dapat
menikmati hamparan sawah yang luas, pemandangan yang sejuk nan indah dari atas.
Mungkinkah gunung ? hah gunung? Aku baru
tersadar jika dari tadi jalanan naik keatas.
“ini
dataran tinngi?” tanya ku
“iya,
kau suka ? lihat pemandanganya indah bukan ?” tanya dia
“iya,
tapi tidak ke gunung kan ?”
“haha,,
tidaklah. Ini masih daaerah pemukiman. Kau lihat sawah luas itu ? bukankah kau
pernah mengatakan jika kau suka melihat sawah dan ingin melihat senja di
hamparan sawah yang luas. Aku ingin kau melihatnya bersama ku” kata dia yang
membuat hati ku kembali terbang.
“iya,
aku pun masih ingat kau pernah menyanyikan sebuah lagu tentang itu untuk ku”
“benar
itu kan lagu untuk mu, tentang kita.” Sambil mengehentikan motor
Wah, tak berhenti aku berdecak kagum
karena melihat pemandangan di bawah sana yang luar biasa indah nya. Aku memang
menyukai alam apalagi dengan sawah dan senja. Aku ingin berdiri pada hamparan
sawah dan melihat senja yang menghiasi langit sore menjadi lebih indah dengan
buncahan merahnya.
“Nai,
kenapa bengong ?” katanya membuyarkan lamunanku
“ah,
tidak. Terimaksih karena sudah mengajaku ke tempat seperti ini. Kau benar aku
sangat suka sawah, tapi sayang sore ini senja tak muncul. Yang ada langit
tampak berwarna kelabu” kata ku
“iya
tak apa, yang penting sore ini kau bersama ku” katanya lagi yang membuat hatiku
semakin bahagia.
Kami pun melanjutkan perjalan, ternyata
tempat yang dia maksud bukanlah sebuah tempat layaknya tempat wisata. Namun
jalanan yang di sampingnya terdapat pemandangan yang begitu indah dan membuat
hati ingin terus berada di tempat ini apalagi adanya kerang di sampingku.
Jalanannya naik turun, berbelok, hingga sampai pada dataran biasa lagi dan di
situ terdapat jembatan yang dibawahnya di aliri air yang nampak seperti sungai
namun sayang airnya tak jernih.
“kau
lihat air yang nampak seperti sungai itu?”
“iya,
kau suka ?” tanya ku
Dia
pun bercerita, jalanan ini favoritnya karena jika dia melewati jalan ini dia
seperti berada di kampung halamanya. Pada waktu dia masih kanak-kanak dia
pernah mandi di sungai, aku bisa merasakan kebahagian masa kecilnya,
membayangkan seorang anak polos yang bahagia bermain air di sungai. Dia terus
bercerita tentang masa kecilnya, tentang kampung halamanya yang lebih indah
dari jalanan ini. Sesekali aku tertawa mendengar ceritanya tapi kebanyakan
haru. Karena cerita-ceritanya tak terasa motor yang ku tumpangi ini sudah
berada di jalanan utama, tepatnya jalan menuju rumah ku. hmm, waktu terasa
lebih cepat jika kita melakukan hal yang kita sukai. Sore ini pun terasa begitu
indah dan cepat berlalu.
***
Aku mengucapkan salam setibanya di
rumah. Masih dengan bibir yang penuh senyuman ku sapa ke dua orang tua ku. Lalu
aku pergi ke kamar dan mengambil buku diary dan pena.
Dear
diary,
Sepertinya
dia orang yang tepat datang pada hidup ku. Di awali dengan dia menyanyikan lagu
untuk ku. Lalu aku memutuskan berjalan seiringan dengannya. Dan hari ini dia
mengajak ku jalan-jalan dan melihat pemandangan yang indah. Kau tahu, hujan pun
tetap ikut besama kami.
Aku tersenyum lalu mengambil handuk dan
pergi untuk mandi. Selsai mandi aku melaksanakan tugas ku sebagai seorang
muslim yaitu sholat maghrib.
Tepat
pukul 22.23 bunyi tanda pesan masuk, tettettt. Segera ku raih hand phone yang
berada tepat di atas kepalaku. Hoamm,, dalam keadaan berbaring aku menguap,
sebelah tangan ku meraba mencari ponsel untuk melihat sms masuk dari siapa.
To: Rinai
Gimana tadi suka kan ?
To: Rinai
Rinai?
To: Rinai
Ko gak di bls, Nai ?
To: Rinai
Udah tidur ? hmm, Good night and have a
nice dream, mutiara ku ;) kalo bangun cepat bls ya, aku nungguin :’(
Rasa kantuk ku tiba-tiba menghilang,
setelah melihat empat pesan dari nya yang belum sempat ku balas. Aku tertawa
dan senang ketika membaca pesan terakhirnya. Inilah yang ku suka dari Rain, hal
sederhana yang dia lakukan selalu membuat ku merasa sangat menyayanginya. Dia
tak lupa mengucapkan ku selamat tidur, walaupun sebelumnya aku tak membalas
sms.
To: Rain
Maaf, aku ketiduran. Iya aku suka
pemandangan yang tadi, indah :D hehe. Good night and have a nice dream kerangku
;)
Saat
aku akan kembali menutup mata, suara hand phone berbunyi lagi. Tetettttetettt.
Ku ambil kembali dan ku baca isinya.
To: Rinai
Aku belum tidur kok :D
To: Rain
Kenapa ? ini hampir jam sebelas malam,
tidur eh. Besok sekolah :P
To: Rinai
Kan nunggu balesan Rinai, hehe
To: Rain
Hmmm, haha. Makasih :D
Rasa
kantuk ku benar-benar sudah hilang, dan pada akhirnya kami jadi smsan. Ah
benar-benar menyenangkan. Aku harap ini bukan untuk sesaat.
***
Mentari pagi menyinari jalanan yang
terlihat bercahaya karena pantulan sinar mentari mengenai air sisa hujan tadi
malam. Hari senin, seperti biasanya ku pergi ke sekolah pagi-pagi sekali karena
harus mengikuti Upacara Bendera yang sudah rutin di laksanakan di semua sekolah
pada awal Minggu. Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelasku yang
berada di lantai atas. Setelah upacara bendera selesai. Aku mengikuti kegiatan
belajar di SMA Impian, pelajaran pertama Bhs. Inggris, dilanjutkan dengan PAI,
istirahat, Bhs. Indonesia, istirahat sholat dan Matematika. Suara yang di
tunggu-tunggu anak XII-IPS 3 tiba juga yaitu bel pulang. Semuanya bersorak
riang, bahkan sudah ada yang membereskan buku dan menggunakan tas mereka karena
tak sabar ingin keluar dari kelas yang sudah penuh dengan angka dan rumus
trigonometri itu. KM pun segera memimpin doa, guru pun keluar kelas. Saat aku
beranjak dari bangku tiba-tiba hand phone ku berbunyi.
To: Rinai
Pulang bareng ya, aku tunggu di depan
gerbang
Pesan
masuk dari dia. Aku tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas. Hampir satu bulan
aku bersamanya, ya siapa lagi kalau bukan kerang ku, Rain. Karena kami
bersekolah di SMA yang sama jadi kami selalu bertemu. Dan hari ini pun aku
pulang di antar oleh nya.
“makasih,
hati-hati” ucapku ketika sampai di depan gang rumah
“sama-sama,
hati-hati juga” jawabnya
Motor
hitamnya pun berlalu dan semakin menjauh dengan di iringi desir angin dingin
yang menandakan kalau siang ini akan turun hujan lagi. Aku segera melangkah ke
arah rumah.
***
Hati ku terus merasa senang, aku tak
henti tersenyum bahkan saat jam pelajaran terakhir ini aku semakin bahagia
karena itu saatnya aku akan bertemu dengan kerang. Terlebih aku dan dia
bersaing dalam nilai ulangan matematika. Dan hari ini aku senang karena ulangan
matematika ku mendapat nilai 80. Yah walaupun tidak 90 tapi itu merupakan
prestasi bagi ku, dalam pelajaran hitungan.
Akhirnya
bel pulang berbunyi, segera kukemasi buku dan alat tulis kedalam tas. Lalu ku
buka hand phone dan ku sms dia, jika aku akan menunggu di kelas sampai dia beres
kegiatan ektrakulikulernya. Rain dan aku mempunyai kegiatan yang berbeda di
sekolah, tapi karena perbedaan itu kami jadi bisa saling menghargai satu sama
lain. Terlebih Rain selalu berkata
“
jika ada orang yang tersenyum melihat kita berpisah, disitulah kita harus
buktikan bahwa kita bisa tetap bersama dalam segala perbedaan dan perbedaan itu
harus jadi penguat satu sama lain.” Kata-kata itulah yang selalu membuat aku
percaya pada Rain.
Aku menunggunya sambil membaca sebuah
novel, tak terasa dari bel pulang sekolah jam 14.00 sekarang jam 15.00 dan itu
tandanya aku sudah menunggu dia satu jam. Ku lihat hand phone karena takut jika
ada balasan dari Rain, tapi ternyata tak ada. “hmmm.. kenapa dia tak menjawab
pesan ku”. aku mulai takut jika Rain melupakan ku, tapi segera ku usir perasaan
itu lalu ku putuskan saja untuk pergi ke musola dulu karena waktu sholat ashar
telah tiba. Sesudah sholat aku kembali melihat hand phone, tapi tetap tak ada
balasan. Apa benar dia lupa dengan ku ? itulah pertanyaanku sedari tadi.
Ku
putuskan untuk mengirim pesan lagi kepadanya.
To : Rain
Rain ? kamu mau pulang jam berapa ? aku
tunggu di depan mading sekolah saja ya.
Aku duduk di depan mading sekolah,
kulanjutkan kembali aktivitas membaca novel untuk mengusir rasa bosan karena
menunggu. Jam menunjukan pukul 15.45 aku semakin cemas karena dari tadi Rain
tidak membalas pesan ku. Ku amati setiap sudut sekolah, yang terlihat hanya
beberapa orang yang sibuk dengan
kegiatan ekstrakulikulernya, dan tentunya penjaga sekolah yang dari tadi
mondar-mandir dan terkadang menatap ku heran karena duduk sendirian. Tak
beberapa lama penjaga sekolah itu menghampiri ku
“belum
pulang neng ?” katanya santun
“belum
pak, nunggu temen dulu. Bentar lagi saya pulang”. Kata ku sambil tersenyum
“oh,
iya cepat pulang. Nanti keburu hujan” katanya lagi sambil menunjuk ke arah
langit
Pembicaraan
kami pun berakhir dengan aku mengaggukan kepala dan tersenyum membalas ucapan
penjaga sekolah itu.
Terlihat beberapa orang yang akan
meninggalkan sekolah, dan sesekali orang yang ku kenal menyapa ku dan
menyuruhku segera pulang. Namun sekian lama ku perhatikan Rain tak muncul dari
ruang kegiatannya. Bahkan suasana sekolah pun semakin sepi, sepertinya hanya
aku yang ada di sini dan tentunya penjaga sekolah yang sedari tadi mengawasi. Penjaga
sekolah itu menghampiri lagi dan menyuruh ku untuk pulang. Dan suruhannya kali
ini lebih serius dan mengharuskanku untuk bangkit dan melangkah menuju gerbang.
Karena jam sudah menunjukan jam 16.45 sebelum pulang aku kirim lagi pesan
singkat kepada Rain.
To : Rain
Rain ? kenapa kau tidak membalas pesan
ku ?. Aku pulang duluan ya, udah di usir nih sama penjaga sekolah. Hati-hati
kamu.
Dengan langkah yang berat ku tinggalkan
sekolah ini. Penantianku berakhir sia-sia yang ku tunggu pun tak kunjung hadir
yang hadir malah rintikan hujan yang sekarang menemani langkahku.
Sesampainya
di rumah, hati ku terasa kacau karena kejadian tadi. Aku langsung masuk ke
kamar dan mengambil buku dan pena.
Dear
diary,
Hujan
tak menahan ku dengan nya untuk bisa bertemu. Hari ini aku kecewa kepada
kerang. Dia tak membalas pesan ku. Bahkan menemui ku ke kelas saja tidak. Ada
apa dengan nya ? hmmm :’(
Ku
simpan buku dan pena di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Lalu ku ambil
handuk dan pergi mandi.
***
Matahari pagi membangunkanku dengan
sinarnya yang masuk melalui celah jendela. Hari ini hari minggu, hari dimana
segala rutinitas yang biasa dilakukan selama 6 hari tidak aku lakukan. Seperti
biasa aku pergi mandi dan tak lupa mengerjakan semua runtinisas pagi yang
selalu menguras tenaga.
Tettttettttettttett,
suara pesan masuk hand phone ku berbunyi. Segera ku ambil dan ternyata dari
kerang ku, pemilik hati ku.
To : Raini
Maaf, kemarin aku lupa bawa hand phone.
Maaf mutiara ku, sebagai gantinya sore ini kau mau kan jalan-jalan dengan ku ?
:D
To : Rain
Oh, iya gak apa-apa. Lain kali kalo
gitu dateng ke kelas aku ya. Hhee
To : Raini
Iya maaf ya. Tapi sore ini kau mau kan
? please J
To : Rain
Hmm... iya iya aku tunggu J
Rain,
kau selalu bisa meluluhkan hatiku. Bahkan disaat aku kecewa dengan sikapmu.
Tapi mungkin ini ya yang dinamakan sayang kepada seseorang. Bisa meluluhkan
apapun.
Rintik-rintik hujan turun perlahan
dan membasahi setiap benda yang ada di bumi. Jalanan licin, tanaman basah, dan
payung yang berwarna-warni menghiasi jalanan yang ada di hadapan ku. aku hanya
berdiri di depan gang rumah, mataku terus mencari sosok yang ku tunggu. Dari
arah samping, terdengar sebuah panggilan. Aku pun menengok dan menghampiri Rain
yang siap dengan motornya untuk membawa kami ke tempat yang dituju.
Motor hitam melaju pada aspal dengan
laju yang cepat. Angin berhembus menemani kami. Tak ada suara, hening. Begitu
pun orang yang mengemudikan motor ini, dia terlihat serius dengan mata yang
terus menatap ke depan memperhatikan jalanan yang akan kami lewati. Awalnya aku
akan bertanya tapi saat melihat wajah seriusnya nyali ku langsung turun. Tak
beberapa lama sepertinya orang yang ku perhatikan sadar akan sikap ku. Dia pun
memulai pembicaraan.
“tumben
diem, kenapa masih marah ?” katanya
“enggak
ko,” jawabku singkat
“ayo
jujur, biasanya cerewet. Mau kemana kita, mau kemana kita” katanya sambil
menirukan gaya bertanya ku jika dia mengajak ke suatu tempat.
Aku
langsung tersenyum saat mendengarnya, dan menundukan kepala. Dia yang melihat
wajahku dari sepion hanya tertawa kecil dan berbicara “ nah gitu dong senyum,
kan cantik”
“ah,
kau malah ngegombal.. gak akan percaya aku”
Kami
pun tertawa bersama. Tak terasa motor hitam yang kami tumpangi sampai di sebuah
tempat wisata. Sudah terlihat loket pembayaran karcis beserta satpam yang
menjaga pintu masuknya. Dia pun langsung membayar karcis dan sang satpam
menganggukan kepala saat kami melewati pintu gerbang masuk.
“
ayo turun, sampai nih”
“kenapa
ngajak aku kesini ?” tanya ku
“kenapa
? gak suka ?” jawabnya yang malah bertanya kembali
“tenang
aku suka ko,” jawabku sambil berjalan ke arah pohon pinus di depan
Dia
mengusap dadanya, lalu mengikuti ku berjalan disamping ke pohon pinus itu. Kami
berjalan beriringan, tanpa suara sedikit pun. Sesekali kami beradu pandang dan
tersenyum saat menyadari kami berdua saling memerhatikan. Lalu mata kami pun
menatap lurus kembali ke depan.
“duduk
disana ya ?” pinta Rain sambil menunjuk sebuah kursi di bawah pohon pinus
“iya”
jawabku
Kami
berdua duduk berdampingan dan masih tetap dalam diam. Entah apa yang ada di
pikiran aku dan Rain. Yang jelas tanpa kata pun kami saling mengetahui jika
hati kami saling menyayangi. Trengtreng.. terdengar alunan gitar, aku menoleh
pada Rain. Dia seperti tahu apa yang aku pikirkan dan dia pun berkata.
“itu
orang yang disana” sambil menunjuk
Terlihat
dua orang remaja seperti aku dan Rain berada pada saung di depan dengan posisi,
sang pria sedang memainkan gitar dan yang wanitanya hanya melihat sang pria. Aku
tersenyum melihatnya.
“Rain
?”
“ya”
“entah
kenapa, jika aku melihat seorang pria memainkan gitar aku jadi teringant
padamu” kata ku begitu saja
“oh
ya? Mungkin karena aku pernah bermain untukmu. Kau bahagia ?”
“iya
mungkin karena itu. Aku sangat bahagia, bahkan terasa indah”
“sama
aku pun merasakan itu, tapi ingatlah kebahagian ini masih jauh dari kenyataan.
Masih bisa berubah kapan saja” katanya sambil tersenyum
Langsung
aku menoleh kepadanya dan berpikir apa maksudnya belum nyata ? bukankah ini
nyata ? maksudnya ini hanya bayangan ? perasaanku langsung berubah tak menentu.
Rain mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Aku langsung tersadar dari
lamunan.
“kenapa
belum nyata ?” tanya ku penasaran
“memang
belum”
“berarti
ini hanya bayangan. Aku kecewa” kataku
“ah
kau, bukan bayangan juga. Ya yang namanya perasaan, jalan kehidupan itu sudah
ada yang mengaturnya bukan ? jadi bisa berubah kapan saja” katanya dengan
begitu tenang
“hmm,
tapi aku ingin tetap seperti ini. Kau bosan dengan ku ?”
“tidak,
aku masih tetap mencintai mu” katanya sambil tertawa dan melihat ke arah ku.
Saat
mendengar kata dia masih mencintaiku, itu membuat ku lega. Walaupun ada banyak
ketakutan jika aku dan Rain mungkin akan berpisah. Aku pun langsung tersenyum
dan mengangguk kepadanya, tanda setuju. Sore ini menghadirkan satu kisah lagi,
cinta dan ketakutan. Aku baru tahu jika pepatah yang mengatakan “jika seseorang
sudah jatuh cinta maka ia akan takut kehilangan orang yang ia cintainya”
ternyata itu benar. Dan sekarang terjadi pada ku. Hari semakin sore, langit
biru kini mulai berganti dengan warna jingga yang berkilau, daun-daun yang
menyisakan rintikan hujan siang tadi mulai kering kembali. Aku dan Rain
memutuskan untuk pulang.
“Rain?”
“ya?”
“Love
you too” kata ku sambil bangkit dari tempat duduk
Rain
tersenyum dan menarik tanganku menuju tempat parkir. Motor hitam pun kembali
melaju di aspal hitam.
Kami sampai di gang depan rumah. Aku
turun dan tak lupa aku mengucapkan terimaksih dan hati-hati kepadanya. Dia
tersenyum dan mengucapkan hati-hati juga. Sekali lagi motor hitam melaju
kembali membawa bayangan Rain menjauh dari posisi aku berdiri.
Sesampainya
di rumah, aku langsung masuk kedalam kamar dan mengambil buku dan pena untuk
menuliskan isi hati ku pada lembaran kertasnya.
Dear
diary,
Hari
ini kerang kembali membuat ku tersenyum dan melupakan luka ku kemarin. Tapi ada
kata yang membuatku takut “masih jauh dari kenyataan” entah apa yang dia
pikirkan. Namun aku berharap kisah ku dengannya akan tetap tertulis di lembar-lembar
kertas yang lain. Amin
***
Pagi ini seperti biasa aku kembali
ke sekolah dan menjalankan segala aktivitasku. Aku melangkah melewati koridor
sekolah untuk menuju kelasku yang terletak di bagian belakang. Saat berjalan
ada yang memanggilku, aku pun berhenti dan menengok ke belakang. Ternyata ia
adalah teman kelas Rain, dia meminta maaf kepada ku katanya sabtu sepulang
sekolah ia meminta Rain untuk mengantarkannya pulang sekitar pukul 15.00. Aku
hanya tersenyum dan mengucapkan kenapa harus meminta maaf, ia tak salah apapun.
Bel tanda masuk berbunyi, di situ aku pamitan terlebih dahulu dan segera
berlari-lari kecil menuju kelas. Dari ucapan temanya, sebenarnya aku sakit
hati. Bukankah hari sabtu aku menunggunya hingga sore, dan kenapa dia tak
mengatakan yang sebenarnya.
Pelajaran pertama dan kedua telah
berakhir, sekarang waktunya istirahat. Aku memutuskan untuk pergi ke
perpustakaan. Perpustakaan memang salah satu tempat favoritku di sekolah ini
karena di situ jiwa ku bebas berkelana ke mana yang ku mau. Tepatnya perpustakaan
tempat yang sunyi. Saat memasuki perpustakaan aku menangkap bayangan Rain
sedang duduk di salah satu bangku pojok kiri yang ada di perpus. Aku tersenyum
melihatnya, kaki ku langsung berjalan ke arahnya tapi belum sampai pada Rain, tubuh
ku terdiam, karena wanita yang tadi pagi memanggilku kini ada disampingnya. Tak
tahu kenapa rasanya hati ku perih, tapi tubuh ini mematung melihat ke arahnya.
Aku terdiam sesaat dan akhirnya bisa berjalan diantara rak yang dipenuhi dengan
buku. Ternyata hati memang tak bisa dibohongi walaupun tangan ku memilih-milih
buku tapi mata dan pikiranku ingin terus melihat bangku pojok kiri itu. Setelah
berpikir bagaimana caranya agar aku mengetahui apa yang dilakukan Rain,
terbersit sebuah ide gila, aku akan berjalan di depan bangku mereka seolah-olah
tak melihat. Ku atur nafas, agar aku terlihat tenang.
Aku
pun berjalan ke arah mereka dengan wajah seperi tidak tahu apa-apa. Tapi apa
yang aku dapat, hanyalah kekecewaan. Rain tidak menengok sedikit pun. Dia malah
asik berbicara dengan wanita itu. Hati ku tambah perih, tapi mataku ingin terus
melihat bangku itu dan aku menangkap mata teman wanitanya menatapku dan
tersenyum mengangguk. Aku hanya bisa membalas senyumnya dan ikut mengangguk
juga. Ku balikan badan dan memutuskan untuk keluar dari perpustakaan yang
mendadak menjadi tempat menyesakan bagiku. Tak terasa air mata ku jatuh saat
menuju kelas.
“semoga
apa yang aku lihat, tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiranku. Aku tak
boleh cemburu kepadanya. Wajar jika dia tidak melihat ku, dia terlalu serius
dengan obrolannya. Aku tidak boleh menggaggu dunianya. Tersenyum Nai” kata ku
dalam hati.
Bel tanda masuk berbunyi, baru 15 menit
pelajaran ke-3 dimulai sudah terdengar pengumuman dan bel panjang bahwa hari
ini siswa-siswa dipulangkan karena gurunya akan mengadakan rapat untuk ujian.
Anak-anak pun bersorak riang. Aku langsung memasukan buku dan alat tulis
kedalam tas. Saat akan keluar kelas, ternyata didepan pintu Rain sudah
menungguku dengan senyumnya. Entah kenapa senyumnya kali ini tak membuatku
merasa senang. Aku masih memikirkan kejadian diperpustakaan.
“Rain,
sedang apa disini ?” tanyaku
“menunggu
mu, kenapa bertanya seperti itu?”
“oh.
Tadi diperpus aku melihat mu bersama teman wanita” kalimatku belum selesai dia
langsung menjawab
“oh
itu teman sekelasku. Dia juga bilang katanya lihat Nai di perpus.”
“kenapa
kau tak menyapaku. Kaya orang gak kenal” kataku sambil melangkah pergi
“eh
eh, mutiaraku marah ya ? maaf, aku lagi banyak pikiran”
Aku
tak menanggapi ucapannya. Aku teruskan saja langkahku tanpa menengoknya sedikit
pun. Dia pun berjalan disampingku dan sama tak berbicara juga, sampai di
gerbang aku bilang aku ingin pulang sendiri dan dia hanya mengucapkan “ya sudah
hati-hati.”
Aku pulang ditemani kendaraan
masyarakat Indonesia, angkot. Sesampainya dirumah aku masuk kamar dan
menceritakan isi hatiku pada teman setia siapa lagi kalau bukan buku dan pena.
Dear
diary,
Hati
ku terluka saat tau dia tak mau menyapaku, bahkan tersenyum pun tidak. Bukan
tak ingin tersenyum duluan, tapi melihat aku pun tidak bagaimana aku bisa
tersenyum untuknya. Aneh,, sikapnya semakin aneh. Apa ada yang salah dengan ku
? hati ku benar-benar sakit.
Aku
pun menutup bukunya dan mengehempaskan diri ku ke tempat tidur untuk melepaskan
semua lelah di hati ini.
Tak terasa hari semakin larut.
Dari pulang sekolah aku hanya berada
didalam kamar. Hingga jubah hitam menutup sang langit aku tetap diam didalam
kamar. Pikiranku terus melayang pada kejadian siang tadi. Terdiam dalam luka
yang sangat menyesakan dan membuat air mataku terus terjatuh. Tetttetttett,
suara panggilan masuk berbunyi. Segera ku angkat.
“hallo,
assalamualaikum” suara Rain dari sebrang
“walaikumsalam,
ada apa Rain ?”
“aku
ingin minta maaf, tadi siang aku memang salah pura-pura tak melihatmu. Maaf
mutiara ku” katanya tulus
Sekali
lagi Rain, kerang ku dapat meluluhkan hati ini. Air mataku berjatuhan, haru.
Aku benar-benar tak bisa menahan lagi apa yang aku rasa. Aku terisak mendengar
kata maafnya.
“nai,
kau menagis” kata orang di sebrang
“iya
Rain. Aku yang harusnya minta maaf. Mungkin aku tak mengerti apa yang sedang
kau rasa. Aku gak marah ko” kataku tulus
“makasih
nai, jangan pernah berpikir bahwa aku melupakan mu ya. Kau masih mutiaraku dan
akan tetap menjadi mutiaraku. Aku sayang Rinai” katanya
“aku
tahu itu. Kau berjanji kan akan tetap menjadi kerangku ?”
“iya
pasti. Udah jangan nangis. Kenapa belum tidur?”
“belum
mau” kata ku singkat
Dan
malam ini menjadi malam haru dan indah karena Rain, kerangku menyanyikan lagu
tidur untuk ku. “Rain andai kau tahu, perasaanku untuk mu nyata. Bahkan sudah
tertancap kuat, dan aku harap bukan aku saja yang merasakannya”. Itulah kataku
dalam hati sebelum terlelap dalam tidur.
***
Setiap tahun di sekolah ku memang
sering mengadakan acara Pensi. Dan tahun sekarang pun pensi diadakan dengan
tema “Muda Kreatif Muda Berkarya”. Semua siswa harus mengikutinya bahkan
sekolah-sekolah lain pun di undang dalam pensi tahun ini. Berbagai acara ada
seperti acara musik, tari, bazar makanan, bazar karya, dan ada pula bazar untuk
berbagai sumbangan yang diadakan oleh sekolah ku. Aku hanya duduk di kursi yang
jauh dari hingar bingar pensi. Memang sengaja ku lakukan karena aku tak terlalu
suka keramaian. Sebenarnya dari tadi aku ingin bertemu dan mengobrol dengan
Rain tapi karena dia salah satu panitia pensi keinginanku jadi terhalang karena
terlihat dia sedang sibuk.
Pensi
tahun ini bisa dibilang sangat meriah. Dari acara musiknya seperti band antar
sekolah yang sukses membuat para gadis remaja menjerit histeris karena melihat
beberapa personilnya berwajah tampan dengan vokalis yang menyanyikan lagu cinta
dengan suara mendayu-dayu, ditambah acara tari atau dance yang memamerkan
kelincahan para penari yang enerjik menambah suasana meriah pensi. Acara bazar
pun tak kalah heboh. Dagangan yang di jual habis tak tersisakan. Acara
pengumpulan dan untuk salah satu panti asuhan pun sukses. Dan sekolah mendapat
pujian dari berbagai golongan khususnya panitia pensi yang sukses dalam
kerjanya. Aku ikut senang, terlebih karena salah satu panitianya kerangku,
pemilik hatiku.
Acara
pensi hingga malam, walaupun dari tadi hujan turun. Jam sudah menunjukan pukul
20.00 teman-temanku mengajaku untuk pulang. Tapi rasanya aku belum mau pulang
jika belum bertemu dengan Rain. Sayangnya orang yang aku cari tak muncul,
sepertinya dia terlalu sibuk dengan tugasnnya sebagai panitia.
To : Rain
Rain kau pasti sibuk ? padahal aku
ingin mengobrol, hehe :D.. Semangat ya jangan terlalu cape, ntar sakit. Aku
pulang duluan.
To : Raini
Iya maksih
Saat membaca pesan balasan Rain memang
senang, tapi kenapa terasa perih. Tak seperti biasanya dia tak mengucapkan
hati-hati. Aku pun membalas lagi pesannya.
***
Bulan Juli awal kesedihanku, di sini
tawa ku perlahan mulai hilang. Yang ada hari-hari ku di hiasi oleh tangisan. Di
sekolah saat aku bertemu dengannya, muka dia datar, mata yang dulu berbinar
saat menatap ku kini tak terlihat lagi. Semuanya datar. Sungguh perubahan
sikapnya itu membuat hati ku terluka. Yang biasanya dia selalu ada untuk ku.
bernyanyi untuk ku kini tidak. Bahkan aku masih mengingat dia pernah menunggu
kegiatanku sampai malam, tapi sekarang membiarkan ku pulang sendiri, melihat ku
menangis bahkan terjatuh pun dia sudah tak peduli, ada apa ? ada yang salah
dengan ku? pertanyaan itu terus ada di pikiranku.
Setibanya
di sekolah seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kelas, pelajaran pertama
adalah pelajara Ekonomi. Aku mengikutinya dengan serius hingga bel istirahat
berbunyi. Pandanganku terarah ke luar kelas dan aku melihat pemandangan yang
tak ku sukai, membuat hati ku sesak, membuat mataku berair. Aku melihat dia
mengobrol dengan penuh kebahagian dengan seorang wanita.
“Nai,
kamu tak apa?” tanya teman sebangku
“eh
iya” jawab ku menunduk
Saat
kejadian itu aku tak fokus mengikuti pelajaran sekolah. Hari-hari berikutnya
pun sama, masih ada luka di hati ini karena perubahan sikap nya. Apakah dia tak
mengerti dengan perasaan ku? hingga pada suatu malam saat aku membuka akun
jejaring sosial, hati ku semakin terluka. Dia, kerangku mengungkapkan rindu
pada seorang gadis. Dan pada saat itu sikapnya mulai berubah padaku, mata yang
dulu berbinar kini beralih pada gadis lain. Ya aku dapat melihatnya, karena
sekarang dia menatap ku dengan tatapan datar. Setelah beberapa hari ku putuskan
untuk meneleponnya.
“hallo,
Rain?”
“iya,
“sapa orang yang ada di seberang
Aku
pun terus bertanya tentang perubahan sikapnya, tapi apa yang dia jawab simple.
Dia tak menjelaskan sesuatu dia malah mengatakan “PUTUS” satu kata namun sangat
perih dan sakit. Air mata tak dapat ku bendung lagi, aku kembali mengingat
setiap kenangan yang pernah aku alami bersamanya di mulai dengan dia menyatakan
isi hatinya lewat lagu, berjalan-jalan, menguatkan satu sama lain, bahkan yang
lebih menyakitkan dia selalu memberikan ku kata-kata manis dan janjinya yang
akan terus disampingku dan tak akan meninggalkanku. Aku pun masih ingat pernah
suatu malam di telepon dia bernyanyi untuk ku, menyanyikan lagu tidur dan yang
lebih membuat ku terluka dia seolah mengubur semua yang pernah dia katakan
untuk ku. Tak berbekas. Semua yang pernah di lakukan bersama tak berberkas. Kau
meninggalkan ku di saat rasa ini sudah tertancap kuat.
Sebelum
tidur ku ambil diary dan pena.
Ternyata benar ini bukan kenyataan, dia pergi membawa impian nya.
Dia meninggalkan ku bersama kenangannya yang sulit ku lupakan sehingga membuat
air mata ini terus berjatuhan. Membuat hujan yang indah menjadi hujan penuh
luka. Dan kau tahu lagunya itu, Sepertinya dia telah lupa. Sakit hati,
ditinggalkan pergi :’(
***
February
2013
Hujan kembali turun dengan derasnya.
Masih ku ingat, tahun lalu di bulan yang sama dan musim yang sama. Hujan
terlihat sangat bahagia, rintikannya membuat nada-nada yang terdengar bahagia.
Aroma jatuh cinta. Berbeda dengan sekarang, hujan meninggalkan luka.
Aku
berjalan melewati koridor sekolah. Dalam perjalanan aku melihatnya, seseorang
yang pernah menghuni hati ku. yang pernah membuat impianku begitu nyata. Ya
kerang ku ada disana bersama para wanita. Tertawa, dan mengobrol dengan
bahagia. Merasakan hujan dengan suka cita. Aku dapat melihat matanya yang
berbinar saat bersama mereka, raut wajah yang penuh ekspresi, terilhat sosok
yang hangat. Sangat berbeda saat dia bertemu denganku, mata yang dingin, raut
wajah tanpa ekspresi. Datar tak ada tanda-tanda pertemanan.
Sejak
hari itu, aku dan dia tak pernah mengobrol lagi. Bahkan saat bertemu pun aku
sengaja munundukan wajah karena tak mau melihat wajah dinginnya, yang membuat
luka dihati ku semakin dalam. Hari-hari ku jadi tak menyenangkan. Tapi dia,
hari-harinya penuh dengan tawa. Tak ada kesepian karena jelas dia mempunyai
banyak teman. Aku hanya bisa terdiam, mengamati dari jauh. Melihat
kebahagiannya dan merasakan kepedihan hati ku.
Aku
melewati akhir SMA dengan kesedihan. Penuh luka. Tapi yang bisa membuatku
bahagia dapat menerima nilai kelulusan dengan baik dan berhasil masuk
Universitas Negeri pilihanku.
***
February
2019
Sore ini aku berjalan gontai menuju
rumah, suasana sore selalu menyenangkan karena pada saat itu aku dapat
menyaksikan beberapa orang yang bahagia dengan kehangatannya berkumpul di
taman, para istri dan anak yang selalu menatap penuh harap sambil berdiri di
depan rumah menatikan suami dan ayah mereka pulang, ataupun anak-anak kecil
yang selalu menghiasi jalanan dengan permainannya. Angin dingin berhembus
memainkan ujung kerudung yang ku kenakan, hmmm kepalaku menegadah melihat ke
langit, tampak awan hitam perlahan muncul. Sepertinya kawanan air akan kembali
berjatuhan. Belum dua menit aku berbicara, benar saja hujan turun secara
perlahan. Aku tetap berjalan ikut menari bersama rintikan hujan, namun semakin
lama rintikan itu semakin banyak dan deras. Aku pun memutuskan untuk berteduh
di sebuah pohon yang rindang.
Tak
beberapa lama suara motor terdengar dan berhenti tepat di depan ku. Aku
tersenyum melihatnya, mata ku terus menatap penumpang yang ada di motor itu.
Dengan tegak terus ku amati setiap gerakannya, dan tak terasa ada butiran
bening yang membasahi pipiku. Dua orang anak muda yang berseragam SMA itu
kembali mengingatkan ku pada seorang yang tak pernah lepas dari hati ini.
Kerang ku cinta pertama ku.
Dear
diary,
Jumat, 22 Februari 2019
Kau pernah menghiasi hari ku, menjadikan hujan ku terasa indah,
menjadikan setiap butirannya menyimpan cerita tentang mu, kerang yang selalu
mendampingi sang mutiara...Namun itu tak bisa menjadi nyata, hanya sebatas
impian kita dan sekarang menjadi kenangan.
***


Komentar
Posting Komentar