Hujan Tak Berbekas


Hujan Tak Berbekas
Oleh : Ledia Dziyan
Pemandangan yang tampak seperti biasa. Jalanan licin, pepohonan dan gedung terlihat basah oleh hujan yang turun. Bulan February memang sedang musim hujan, jadi hampir setiap sore kota Bandung di guyur hujan. Bahkan saking derasnya bisa menimbulkan kemacetan karena di beberapa ruas jalan terkena banjir.
Hmm, hari ini hujan lagi. Aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Ku percepat langkah karena ada yang sudah menunggu di luar gerbang. Kerang ku, pemilik hati ku.
“ayo cepat” ajak seorang pria yang berada di atas motor berwarna hitam
“iya” jawabku sambil tersenyum
Motor melaju melewati rintikan hujan yang masih tersisa. Dingin. Tapi bagi ku ini merupakan hal paling menyenangkan berjalan melewati hujan.
***
Setibanya di dalam kamar ku ambil diary dan pena
Dear diary,
Kau tahu, hari ini hujan tetap menghiasi hari ku. tentu dengan adanya seorang kerang. aku semakin menyukai hujan dan kerang J
Kututup buku diary itu dengan senyuman. Hmm, benar-benar menyenagkan kataku dalam hati.
Tettttettttettt.. tiba-tiba terdengar suara tanda pesan masuk. Segera ku ambil hand phone yang berada di atas meja kecil sebelah tempat tidur dan tertera nama dia.
To : Rinai
Good night and have a nice dream, mutiara ku ;)
Inilah yang aku suka dari dia, hal-hal kecil bisa menjadi luar biasa, seperti ucapan tidur. Walaupun hal ini sederhana tapi dia tak pernah lupa untuk mengucapkannya padaku. Hmmm aku merasa beruntung, ada orang yang menyayangiku. Aku pun segera membalas pesannya.
To: Rain
Good night and have a nice dream, kerang ku ;)
***
Minggu pagi ku habiskan waktu untuk membantu pekerjaan ibu di rumah. Di mulai dengan membersihkan kamar sendiri, ruang tengah, dapur, ruang tamu dan menyapu halaman depan. Setelah selesai dengan pekerjaan minggu ku, aku pergi mandi dan membereskan semua tugas sekolah. Karena sore nanti aku akan bertemu dia, siapa lagi kalau bukan kerang ku. Aku menyukai saat-saat seperti ini, menunggu kehadirannya dan biasanya dia akan tersenyum kala melihat aku sudah datang terlebih dahulu. Belum sampai lima menit aku menunggunya dia sudah datang. Seperti yang aku perkirakan, hari ini pun dia memberikan senyuman tulusnya untuk ku ketika aku sudah sampai duluan.
“mau pergi kemana kita?”
“aku akan membawa mu ketempat yang pasti kau suka” katanya dengan nada misterius.
Aku hanya tersenyum mendengar jawabanya. Motor hitam pun melaju secara perlahan di atas jalanan, belum sampai pada tempat yang dituju, gerimis mulai muncul dan menandakan bahwa hujan akan segera turun.
“mau kemana kita?” ku ulangi pertanyaanku tadi. Tapi dia hanya tersenyum simpul dan mengatakan “tenang saja, aku tak akan menculik mu”. Motor yang aku tumpangi perlahan kecepatanya menurun dan berhenti di samping pohon yang rindang. Aku tak mengerti kenapa dia menghentikan motor di pinggir jalan, maksudnya pinggir jalan ini tempat istimewa itu ?.
“turun” katanya pelan
“sudah sampai” kata ku polos
Dia mengatakan kita berteduh dulu, hujannya semakin deras. Dan dia juga mengatakan bahwa dia tak mau jika aku sakit. Aku tersenyum lalu turun dari motornya dan berdiri di sebelah dia. Kami mendengarkan irama yang tercipta dari hujan, sesekali kami saling berpandangan lalu tersenyum. Ya, hujan selalu menahan aku dan dia untuk lebih lama, menikmati rintikannya yang seperti detak jantung kami berdua, mengamati setiap butiranya dan ikut bahagia seperti bunga-bunga yang disiram air.
Sudah 30 menit kami berteduh dan sekang kami kembali menaiki motor hitam dan melaju melewati jalanan yang basah. Di jalan aku mendengarkan kata-katanya, “kerang berdiri di tengah hamparan pasir yang sangat luas dan di situ pula mutiara hadir mendampinginya dengan membawa sepercik harapan dan di ubahnya menjadi kenyataan ”. Saat dia mengatakan kalimat ini, harapan dan impian untuk bisa bersama semakin kuat, dia bawa harapan ku terbang, aku senang mendengarnya. Dan kalimat ini pula yang menjadikan dia memanggilku mutiara, dan aku memanggilnya kerang. Aku berharap kalimat itu bisa menjadi kenyataan bukan hanya ucapan manis yang nantinya kan berubah menjadi tangisan.
Motor hitam terus melaju membawa penumpangnya semakin jauh dari tempat asal, dalam hati ku bertanya-tanya mau kemana ini. Perjalanan yang menyenangkan karena sepanjang jalan aku dapat menikmati hamparan sawah yang luas, pemandangan yang sejuk nan indah dari atas. Mungkinkah gunung ? hah  gunung? Aku baru tersadar jika dari tadi jalanan naik keatas.
“ini dataran tinngi?” tanya ku
“iya, kau suka ? lihat pemandanganya indah bukan ?” tanya dia
“iya, tapi tidak ke gunung kan ?”
“haha,, tidaklah. Ini masih daaerah pemukiman. Kau lihat sawah luas itu ? bukankah kau pernah mengatakan jika kau suka melihat sawah dan ingin melihat senja di hamparan sawah yang luas. Aku ingin kau melihatnya bersama ku” kata dia yang membuat hati ku kembali terbang.
“iya, aku pun masih ingat kau pernah menyanyikan sebuah lagu tentang itu untuk ku”
“benar itu kan lagu untuk mu, tentang kita.” Sambil mengehentikan motor
Wah, tak berhenti aku berdecak kagum karena melihat pemandangan di bawah sana yang luar biasa indah nya. Aku memang menyukai alam apalagi dengan sawah dan senja. Aku ingin berdiri pada hamparan sawah dan melihat senja yang menghiasi langit sore menjadi lebih indah dengan buncahan merahnya.
“Nai, kenapa bengong ?” katanya membuyarkan lamunanku
“ah, tidak. Terimaksih karena sudah mengajaku ke tempat seperti ini. Kau benar aku sangat suka sawah, tapi sayang sore ini senja tak muncul. Yang ada langit tampak berwarna kelabu” kata ku
“iya tak apa, yang penting sore ini kau bersama ku” katanya lagi yang membuat hatiku semakin bahagia.
Kami pun melanjutkan perjalan, ternyata tempat yang dia maksud bukanlah sebuah tempat layaknya tempat wisata. Namun jalanan yang di sampingnya terdapat pemandangan yang begitu indah dan membuat hati ingin terus berada di tempat ini apalagi adanya kerang di sampingku. Jalanannya naik turun, berbelok, hingga sampai pada dataran biasa lagi dan di situ terdapat jembatan yang dibawahnya di aliri air yang nampak seperti sungai namun sayang airnya tak jernih.
“kau lihat air yang nampak seperti sungai itu?”
“iya, kau suka ?” tanya ku
Dia pun bercerita, jalanan ini favoritnya karena jika dia melewati jalan ini dia seperti berada di kampung halamanya. Pada waktu dia masih kanak-kanak dia pernah mandi di sungai, aku bisa merasakan kebahagian masa kecilnya, membayangkan seorang anak polos yang bahagia bermain air di sungai. Dia terus bercerita tentang masa kecilnya, tentang kampung halamanya yang lebih indah dari jalanan ini. Sesekali aku tertawa mendengar ceritanya tapi kebanyakan haru. Karena cerita-ceritanya tak terasa motor yang ku tumpangi ini sudah berada di jalanan utama, tepatnya jalan menuju rumah ku. hmm, waktu terasa lebih cepat jika kita melakukan hal yang kita sukai. Sore ini pun terasa begitu indah dan cepat berlalu.
***
Aku mengucapkan salam setibanya di rumah. Masih dengan bibir yang penuh senyuman ku sapa ke dua orang tua ku. Lalu aku pergi ke kamar dan mengambil buku diary dan pena.
Dear diary,
Sepertinya dia orang yang tepat datang pada hidup ku. Di awali dengan dia menyanyikan lagu untuk ku. Lalu aku memutuskan berjalan seiringan dengannya. Dan hari ini dia mengajak ku jalan-jalan dan melihat pemandangan yang indah. Kau tahu, hujan pun tetap ikut besama kami.
Aku tersenyum lalu mengambil handuk dan pergi untuk mandi. Selsai mandi aku melaksanakan tugas ku sebagai seorang muslim yaitu sholat maghrib.
Tepat pukul 22.23 bunyi tanda pesan masuk, tettettt. Segera ku raih hand phone yang berada tepat di atas kepalaku. Hoamm,, dalam keadaan berbaring aku menguap, sebelah tangan ku meraba mencari ponsel untuk melihat sms masuk dari siapa.
To: Rinai
Gimana tadi suka kan ?
To: Rinai
Rinai?
To: Rinai
Ko gak di bls, Nai ?
To: Rinai
Udah tidur ? hmm, Good night and have a nice dream, mutiara ku ;) kalo bangun cepat bls ya, aku nungguin :’(
Rasa kantuk ku tiba-tiba menghilang, setelah melihat empat pesan dari nya yang belum sempat ku balas. Aku tertawa dan senang ketika membaca pesan terakhirnya. Inilah yang ku suka dari Rain, hal sederhana yang dia lakukan selalu membuat ku merasa sangat menyayanginya. Dia tak lupa mengucapkan ku selamat tidur, walaupun sebelumnya aku tak membalas sms.
To: Rain
Maaf, aku ketiduran. Iya aku suka pemandangan yang tadi, indah :D hehe. Good night and have a nice dream kerangku ;)
Saat aku akan kembali menutup mata, suara hand phone berbunyi lagi. Tetettttetettt. Ku ambil kembali dan ku baca isinya.
To: Rinai
Aku belum tidur kok :D
To: Rain
Kenapa ? ini hampir jam sebelas malam, tidur eh. Besok sekolah :P
To: Rinai
Kan nunggu balesan Rinai, hehe
To: Rain
Hmmm, haha. Makasih :D
Rasa kantuk ku benar-benar sudah hilang, dan pada akhirnya kami jadi smsan. Ah benar-benar menyenangkan. Aku harap ini bukan untuk sesaat.
***
Mentari pagi menyinari jalanan yang terlihat bercahaya karena pantulan sinar mentari mengenai air sisa hujan tadi malam. Hari senin, seperti biasanya ku pergi ke sekolah pagi-pagi sekali karena harus mengikuti Upacara Bendera yang sudah rutin di laksanakan di semua sekolah pada awal Minggu. Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelasku yang berada di lantai atas. Setelah upacara bendera selesai. Aku mengikuti kegiatan belajar di SMA Impian, pelajaran pertama Bhs. Inggris, dilanjutkan dengan PAI, istirahat, Bhs. Indonesia, istirahat sholat dan Matematika. Suara yang di tunggu-tunggu anak XII-IPS 3 tiba juga yaitu bel pulang. Semuanya bersorak riang, bahkan sudah ada yang membereskan buku dan menggunakan tas mereka karena tak sabar ingin keluar dari kelas yang sudah penuh dengan angka dan rumus trigonometri itu. KM pun segera memimpin doa, guru pun keluar kelas. Saat aku beranjak dari bangku tiba-tiba hand phone ku berbunyi.
To: Rinai
Pulang bareng ya, aku tunggu di depan gerbang
Pesan masuk dari dia. Aku tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas. Hampir satu bulan aku bersamanya, ya siapa lagi kalau bukan kerang ku, Rain. Karena kami bersekolah di SMA yang sama jadi kami selalu bertemu. Dan hari ini pun aku pulang di antar oleh nya.
“makasih, hati-hati” ucapku ketika sampai di depan gang rumah
“sama-sama, hati-hati juga” jawabnya
Motor hitamnya pun berlalu dan semakin menjauh dengan di iringi desir angin dingin yang menandakan kalau siang ini akan turun hujan lagi. Aku segera melangkah ke arah rumah.
***
Hati ku terus merasa senang, aku tak henti tersenyum bahkan saat jam pelajaran terakhir ini aku semakin bahagia karena itu saatnya aku akan bertemu dengan kerang. Terlebih aku dan dia bersaing dalam nilai ulangan matematika. Dan hari ini aku senang karena ulangan matematika ku mendapat nilai 80. Yah walaupun tidak 90 tapi itu merupakan prestasi bagi ku, dalam pelajaran hitungan.
Akhirnya bel pulang berbunyi, segera kukemasi buku dan alat tulis kedalam tas. Lalu ku buka hand phone dan ku sms dia, jika aku akan menunggu di kelas sampai dia beres kegiatan ektrakulikulernya. Rain dan aku mempunyai kegiatan yang berbeda di sekolah, tapi karena perbedaan itu kami jadi bisa saling menghargai satu sama lain. Terlebih Rain selalu berkata
“ jika ada orang yang tersenyum melihat kita berpisah, disitulah kita harus buktikan bahwa kita bisa tetap bersama dalam segala perbedaan dan perbedaan itu harus jadi penguat satu sama lain.” Kata-kata itulah yang selalu membuat aku percaya pada Rain.
Aku menunggunya sambil membaca sebuah novel, tak terasa dari bel pulang sekolah jam 14.00 sekarang jam 15.00 dan itu tandanya aku sudah menunggu dia satu jam. Ku lihat hand phone karena takut jika ada balasan dari Rain, tapi ternyata tak ada. “hmmm.. kenapa dia tak menjawab pesan ku”. aku mulai takut jika Rain melupakan ku, tapi segera ku usir perasaan itu lalu ku putuskan saja untuk pergi ke musola dulu karena waktu sholat ashar telah tiba. Sesudah sholat aku kembali melihat hand phone, tapi tetap tak ada balasan. Apa benar dia lupa dengan ku ? itulah pertanyaanku sedari tadi.
Ku putuskan untuk mengirim pesan lagi kepadanya.
To : Rain
Rain ? kamu mau pulang jam berapa ? aku tunggu di depan mading sekolah saja ya.
Aku duduk di depan mading sekolah, kulanjutkan kembali aktivitas membaca novel untuk mengusir rasa bosan karena menunggu. Jam menunjukan pukul 15.45 aku semakin cemas karena dari tadi Rain tidak membalas pesan ku. Ku amati setiap sudut sekolah, yang terlihat hanya beberapa orang  yang sibuk dengan kegiatan ekstrakulikulernya, dan tentunya penjaga sekolah yang dari tadi mondar-mandir dan terkadang menatap ku heran karena duduk sendirian. Tak beberapa lama penjaga sekolah itu menghampiri ku
“belum pulang neng ?” katanya santun
“belum pak, nunggu temen dulu. Bentar lagi saya pulang”. Kata ku sambil tersenyum
“oh, iya cepat pulang. Nanti keburu hujan” katanya lagi sambil menunjuk ke arah langit
Pembicaraan kami pun berakhir dengan aku mengaggukan kepala dan tersenyum membalas ucapan penjaga sekolah itu.
Terlihat beberapa orang yang akan meninggalkan sekolah, dan sesekali orang yang ku kenal menyapa ku dan menyuruhku segera pulang. Namun sekian lama ku perhatikan Rain tak muncul dari ruang kegiatannya. Bahkan suasana sekolah pun semakin sepi, sepertinya hanya aku yang ada di sini dan tentunya penjaga sekolah yang sedari tadi mengawasi. Penjaga sekolah itu menghampiri lagi dan menyuruh ku untuk pulang. Dan suruhannya kali ini lebih serius dan mengharuskanku untuk bangkit dan melangkah menuju gerbang. Karena jam sudah menunjukan jam 16.45 sebelum pulang aku kirim lagi pesan singkat kepada Rain.
To : Rain
Rain ? kenapa kau tidak membalas pesan ku ?. Aku pulang duluan ya, udah di usir nih sama penjaga sekolah. Hati-hati kamu.
Dengan langkah yang berat ku tinggalkan sekolah ini. Penantianku berakhir sia-sia yang ku tunggu pun tak kunjung hadir yang hadir malah rintikan hujan yang sekarang menemani langkahku.
Sesampainya di rumah, hati ku terasa kacau karena kejadian tadi. Aku langsung masuk ke kamar dan mengambil buku dan pena.
Dear diary,
Hujan tak menahan ku dengan nya untuk bisa bertemu. Hari ini aku kecewa kepada kerang. Dia tak membalas pesan ku. Bahkan menemui ku ke kelas saja tidak. Ada apa dengan nya ? hmmm :’(
Ku simpan buku dan pena di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Lalu ku ambil handuk dan pergi mandi.
***
            Matahari pagi membangunkanku dengan sinarnya yang masuk melalui celah jendela. Hari ini hari minggu, hari dimana segala rutinitas yang biasa dilakukan selama 6 hari tidak aku lakukan. Seperti biasa aku pergi mandi dan tak lupa mengerjakan semua runtinisas pagi yang selalu menguras tenaga.
Tettttettttettttett, suara pesan masuk hand phone ku berbunyi. Segera ku ambil dan ternyata dari kerang ku, pemilik hati ku.
To : Raini
Maaf, kemarin aku lupa bawa hand phone. Maaf mutiara ku, sebagai gantinya sore ini kau mau kan jalan-jalan dengan ku ? :D
To : Rain
Oh, iya gak apa-apa. Lain kali kalo gitu dateng ke kelas aku ya. Hhee
To : Raini
Iya maaf ya. Tapi sore ini kau mau kan ? please J
To : Rain
Hmm... iya iya aku tunggu J
Rain, kau selalu bisa meluluhkan hatiku. Bahkan disaat aku kecewa dengan sikapmu. Tapi mungkin ini ya yang dinamakan sayang kepada seseorang. Bisa meluluhkan apapun.
            Rintik-rintik hujan turun perlahan dan membasahi setiap benda yang ada di bumi. Jalanan licin, tanaman basah, dan payung yang berwarna-warni menghiasi jalanan yang ada di hadapan ku. aku hanya berdiri di depan gang rumah, mataku terus mencari sosok yang ku tunggu. Dari arah samping, terdengar sebuah panggilan. Aku pun menengok dan menghampiri Rain yang siap dengan motornya untuk membawa kami ke tempat yang dituju.
Motor hitam melaju pada aspal dengan laju yang cepat. Angin berhembus menemani kami. Tak ada suara, hening. Begitu pun orang yang mengemudikan motor ini, dia terlihat serius dengan mata yang terus menatap ke depan memperhatikan jalanan yang akan kami lewati. Awalnya aku akan bertanya tapi saat melihat wajah seriusnya nyali ku langsung turun. Tak beberapa lama sepertinya orang yang ku perhatikan sadar akan sikap ku. Dia pun memulai pembicaraan.
“tumben diem, kenapa masih marah ?” katanya
“enggak ko,” jawabku singkat
“ayo jujur, biasanya cerewet. Mau kemana kita, mau kemana kita” katanya sambil menirukan gaya bertanya ku jika dia mengajak ke suatu tempat.
Aku langsung tersenyum saat mendengarnya, dan menundukan kepala. Dia yang melihat wajahku dari sepion hanya tertawa kecil dan berbicara “ nah gitu dong senyum, kan cantik”
“ah, kau malah ngegombal.. gak akan percaya aku”
Kami pun tertawa bersama. Tak terasa motor hitam yang kami tumpangi sampai di sebuah tempat wisata. Sudah terlihat loket pembayaran karcis beserta satpam yang menjaga pintu masuknya. Dia pun langsung membayar karcis dan sang satpam menganggukan kepala saat kami melewati pintu gerbang masuk.
“ ayo turun, sampai nih”
“kenapa ngajak aku kesini ?” tanya ku
“kenapa ? gak suka ?” jawabnya yang malah bertanya kembali
“tenang aku suka ko,” jawabku sambil berjalan ke arah pohon pinus di depan
Dia mengusap dadanya, lalu mengikuti ku berjalan disamping ke pohon pinus itu. Kami berjalan beriringan, tanpa suara sedikit pun. Sesekali kami beradu pandang dan tersenyum saat menyadari kami berdua saling memerhatikan. Lalu mata kami pun menatap lurus kembali ke depan.
“duduk disana ya ?” pinta Rain sambil menunjuk sebuah kursi di bawah pohon pinus
“iya” jawabku
Kami berdua duduk berdampingan dan masih tetap dalam diam. Entah apa yang ada di pikiran aku dan Rain. Yang jelas tanpa kata pun kami saling mengetahui jika hati kami saling menyayangi. Trengtreng.. terdengar alunan gitar, aku menoleh pada Rain. Dia seperti tahu apa yang aku pikirkan dan dia pun berkata.
“itu orang yang disana” sambil menunjuk
Terlihat dua orang remaja seperti aku dan Rain berada pada saung di depan dengan posisi, sang pria sedang memainkan gitar dan yang wanitanya hanya melihat sang pria. Aku tersenyum melihatnya.
“Rain ?”
“ya”
“entah kenapa, jika aku melihat seorang pria memainkan gitar aku jadi teringant padamu” kata ku begitu saja
“oh ya? Mungkin karena aku pernah bermain untukmu. Kau bahagia ?”
“iya mungkin karena itu. Aku sangat bahagia, bahkan terasa indah”
“sama aku pun merasakan itu, tapi ingatlah kebahagian ini masih jauh dari kenyataan. Masih bisa berubah kapan saja” katanya sambil tersenyum
Langsung aku menoleh kepadanya dan berpikir apa maksudnya belum nyata ? bukankah ini nyata ? maksudnya ini hanya bayangan ? perasaanku langsung berubah tak menentu. Rain mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Aku langsung tersadar dari lamunan.
“kenapa belum nyata ?” tanya ku penasaran
“memang belum”
“berarti ini hanya bayangan. Aku kecewa” kataku
“ah kau, bukan bayangan juga. Ya yang namanya perasaan, jalan kehidupan itu sudah ada yang mengaturnya bukan ? jadi bisa berubah kapan saja” katanya dengan begitu tenang
“hmm, tapi aku ingin tetap seperti ini. Kau bosan dengan ku ?”
“tidak, aku masih tetap mencintai mu” katanya sambil tertawa dan melihat ke arah ku.
Saat mendengar kata dia masih mencintaiku, itu membuat ku lega. Walaupun ada banyak ketakutan jika aku dan Rain mungkin akan berpisah. Aku pun langsung tersenyum dan mengangguk kepadanya, tanda setuju. Sore ini menghadirkan satu kisah lagi, cinta dan ketakutan. Aku baru tahu jika pepatah yang mengatakan “jika seseorang sudah jatuh cinta maka ia akan takut kehilangan orang yang ia cintainya” ternyata itu benar. Dan sekarang terjadi pada ku. Hari semakin sore, langit biru kini mulai berganti dengan warna jingga yang berkilau, daun-daun yang menyisakan rintikan hujan siang tadi mulai kering kembali. Aku dan Rain memutuskan untuk pulang.
“Rain?”
“ya?”
“Love you too” kata ku sambil bangkit dari tempat duduk
Rain tersenyum dan menarik tanganku menuju tempat parkir. Motor hitam pun kembali melaju di aspal hitam.
            Kami sampai di gang depan rumah. Aku turun dan tak lupa aku mengucapkan terimaksih dan hati-hati kepadanya. Dia tersenyum dan mengucapkan hati-hati juga. Sekali lagi motor hitam melaju kembali membawa bayangan Rain menjauh dari posisi aku berdiri.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kedalam kamar dan mengambil buku dan pena untuk menuliskan isi hati ku pada lembaran kertasnya.
Dear diary,
Hari ini kerang kembali membuat ku tersenyum dan melupakan luka ku kemarin. Tapi ada kata yang membuatku takut “masih jauh dari kenyataan” entah apa yang dia pikirkan. Namun aku berharap kisah ku dengannya akan tetap tertulis di lembar-lembar kertas yang lain. Amin
***
            Pagi ini seperti biasa aku kembali ke sekolah dan menjalankan segala aktivitasku. Aku melangkah melewati koridor sekolah untuk menuju kelasku yang terletak di bagian belakang. Saat berjalan ada yang memanggilku, aku pun berhenti dan menengok ke belakang. Ternyata ia adalah teman kelas Rain, dia meminta maaf kepada ku katanya sabtu sepulang sekolah ia meminta Rain untuk mengantarkannya pulang sekitar pukul 15.00. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan kenapa harus meminta maaf, ia tak salah apapun. Bel tanda masuk berbunyi, di situ aku pamitan terlebih dahulu dan segera berlari-lari kecil menuju kelas. Dari ucapan temanya, sebenarnya aku sakit hati. Bukankah hari sabtu aku menunggunya hingga sore, dan kenapa dia tak mengatakan yang sebenarnya.
Pelajaran pertama dan kedua telah berakhir, sekarang waktunya istirahat. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Perpustakaan memang salah satu tempat favoritku di sekolah ini karena di situ jiwa ku bebas berkelana ke mana yang ku mau. Tepatnya perpustakaan tempat yang sunyi. Saat memasuki perpustakaan aku menangkap bayangan Rain sedang duduk di salah satu bangku pojok kiri yang ada di perpus. Aku tersenyum melihatnya, kaki ku langsung berjalan ke arahnya tapi belum sampai pada Rain, tubuh ku terdiam, karena wanita yang tadi pagi memanggilku kini ada disampingnya. Tak tahu kenapa rasanya hati ku perih, tapi tubuh ini mematung melihat ke arahnya. Aku terdiam sesaat dan akhirnya bisa berjalan diantara rak yang dipenuhi dengan buku. Ternyata hati memang tak bisa dibohongi walaupun tangan ku memilih-milih buku tapi mata dan pikiranku ingin terus melihat bangku pojok kiri itu. Setelah berpikir bagaimana caranya agar aku mengetahui apa yang dilakukan Rain, terbersit sebuah ide gila, aku akan berjalan di depan bangku mereka seolah-olah tak melihat. Ku atur nafas, agar aku terlihat tenang.
Aku pun berjalan ke arah mereka dengan wajah seperi tidak tahu apa-apa. Tapi apa yang aku dapat, hanyalah kekecewaan. Rain tidak menengok sedikit pun. Dia malah asik berbicara dengan wanita itu. Hati ku tambah perih, tapi mataku ingin terus melihat bangku itu dan aku menangkap mata teman wanitanya menatapku dan tersenyum mengangguk. Aku hanya bisa membalas senyumnya dan ikut mengangguk juga. Ku balikan badan dan memutuskan untuk keluar dari perpustakaan yang mendadak menjadi tempat menyesakan bagiku. Tak terasa air mata ku jatuh saat menuju kelas.
“semoga apa yang aku lihat, tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiranku. Aku tak boleh cemburu kepadanya. Wajar jika dia tidak melihat ku, dia terlalu serius dengan obrolannya. Aku tidak boleh menggaggu dunianya. Tersenyum Nai” kata ku dalam hati.
Bel tanda masuk berbunyi, baru 15 menit pelajaran ke-3 dimulai sudah terdengar pengumuman dan bel panjang bahwa hari ini siswa-siswa dipulangkan karena gurunya akan mengadakan rapat untuk ujian. Anak-anak pun bersorak riang. Aku langsung memasukan buku dan alat tulis kedalam tas. Saat akan keluar kelas, ternyata didepan pintu Rain sudah menungguku dengan senyumnya. Entah kenapa senyumnya kali ini tak membuatku merasa senang. Aku masih memikirkan kejadian diperpustakaan.
“Rain, sedang apa disini ?” tanyaku
“menunggu mu, kenapa bertanya seperti itu?”
“oh. Tadi diperpus aku melihat mu bersama teman wanita” kalimatku belum selesai dia langsung menjawab
“oh itu teman sekelasku. Dia juga bilang katanya lihat Nai di perpus.”
“kenapa kau tak menyapaku. Kaya orang gak kenal” kataku sambil melangkah pergi
“eh eh, mutiaraku marah ya ? maaf, aku lagi banyak pikiran”
Aku tak menanggapi ucapannya. Aku teruskan saja langkahku tanpa menengoknya sedikit pun. Dia pun berjalan disampingku dan sama tak berbicara juga, sampai di gerbang aku bilang aku ingin pulang sendiri dan dia hanya mengucapkan “ya sudah hati-hati.”
            Aku pulang ditemani kendaraan masyarakat Indonesia, angkot. Sesampainya dirumah aku masuk kamar dan menceritakan isi hatiku pada teman setia siapa lagi kalau bukan buku dan pena.
Dear diary,
Hati ku terluka saat tau dia tak mau menyapaku, bahkan tersenyum pun tidak. Bukan tak ingin tersenyum duluan, tapi melihat aku pun tidak bagaimana aku bisa tersenyum untuknya. Aneh,, sikapnya semakin aneh. Apa ada yang salah dengan ku ? hati ku benar-benar sakit.
Aku pun menutup bukunya dan mengehempaskan diri ku ke tempat tidur untuk melepaskan semua lelah di hati ini.
            Tak terasa hari semakin larut. Dari  pulang sekolah aku hanya berada didalam kamar. Hingga jubah hitam menutup sang langit aku tetap diam didalam kamar. Pikiranku terus melayang pada kejadian siang tadi. Terdiam dalam luka yang sangat menyesakan dan membuat air mataku terus terjatuh. Tetttetttett, suara panggilan masuk berbunyi. Segera ku angkat.
“hallo, assalamualaikum” suara Rain dari sebrang
“walaikumsalam, ada apa Rain ?”
“aku ingin minta maaf, tadi siang aku memang salah pura-pura tak melihatmu. Maaf mutiara ku” katanya tulus
Sekali lagi Rain, kerang ku dapat meluluhkan hati ini. Air mataku berjatuhan, haru. Aku benar-benar tak bisa menahan lagi apa yang aku rasa. Aku terisak mendengar kata maafnya.
“nai, kau menagis” kata orang di sebrang
“iya Rain. Aku yang harusnya minta maaf. Mungkin aku tak mengerti apa yang sedang kau rasa. Aku gak marah ko” kataku tulus
“makasih nai, jangan pernah berpikir bahwa aku melupakan mu ya. Kau masih mutiaraku dan akan tetap menjadi mutiaraku. Aku sayang Rinai” katanya
“aku tahu itu. Kau berjanji kan akan tetap menjadi kerangku ?”
“iya pasti. Udah jangan nangis. Kenapa belum tidur?”
“belum mau” kata ku singkat
Dan malam ini menjadi malam haru dan indah karena Rain, kerangku menyanyikan lagu tidur untuk ku. “Rain andai kau tahu, perasaanku untuk mu nyata. Bahkan sudah tertancap kuat, dan aku harap bukan aku saja yang merasakannya”. Itulah kataku dalam hati sebelum terlelap dalam tidur.
***
            Setiap tahun di sekolah ku memang sering mengadakan acara Pensi. Dan tahun sekarang pun pensi diadakan dengan tema “Muda Kreatif Muda Berkarya”. Semua siswa harus mengikutinya bahkan sekolah-sekolah lain pun di undang dalam pensi tahun ini. Berbagai acara ada seperti acara musik, tari, bazar makanan, bazar karya, dan ada pula bazar untuk berbagai sumbangan yang diadakan oleh sekolah ku. Aku hanya duduk di kursi yang jauh dari hingar bingar pensi. Memang sengaja ku lakukan karena aku tak terlalu suka keramaian. Sebenarnya dari tadi aku ingin bertemu dan mengobrol dengan Rain tapi karena dia salah satu panitia pensi keinginanku jadi terhalang karena terlihat dia sedang sibuk.
Pensi tahun ini bisa dibilang sangat meriah. Dari acara musiknya seperti band antar sekolah yang sukses membuat para gadis remaja menjerit histeris karena melihat beberapa personilnya berwajah tampan dengan vokalis yang menyanyikan lagu cinta dengan suara mendayu-dayu, ditambah acara tari atau dance yang memamerkan kelincahan para penari yang enerjik menambah suasana meriah pensi. Acara bazar pun tak kalah heboh. Dagangan yang di jual habis tak tersisakan. Acara pengumpulan dan untuk salah satu panti asuhan pun sukses. Dan sekolah mendapat pujian dari berbagai golongan khususnya panitia pensi yang sukses dalam kerjanya. Aku ikut senang, terlebih karena salah satu panitianya kerangku, pemilik hatiku.
Acara pensi hingga malam, walaupun dari tadi hujan turun. Jam sudah menunjukan pukul 20.00 teman-temanku mengajaku untuk pulang. Tapi rasanya aku belum mau pulang jika belum bertemu dengan Rain. Sayangnya orang yang aku cari tak muncul, sepertinya dia terlalu sibuk dengan tugasnnya sebagai panitia.
To : Rain
Rain kau pasti sibuk ? padahal aku ingin mengobrol, hehe :D.. Semangat ya jangan terlalu cape, ntar sakit. Aku pulang duluan.
To : Raini
Iya maksih
Saat membaca pesan balasan Rain memang senang, tapi kenapa terasa perih. Tak seperti biasanya dia tak mengucapkan hati-hati. Aku pun membalas lagi pesannya.
***
Bulan Juli awal kesedihanku, di sini tawa ku perlahan mulai hilang. Yang ada hari-hari ku di hiasi oleh tangisan. Di sekolah saat aku bertemu dengannya, muka dia datar, mata yang dulu berbinar saat menatap ku kini tak terlihat lagi. Semuanya datar. Sungguh perubahan sikapnya itu membuat hati ku terluka. Yang biasanya dia selalu ada untuk ku. bernyanyi untuk ku kini tidak. Bahkan aku masih mengingat dia pernah menunggu kegiatanku sampai malam, tapi sekarang membiarkan ku pulang sendiri, melihat ku menangis bahkan terjatuh pun dia sudah tak peduli, ada apa ? ada yang salah dengan ku? pertanyaan itu terus ada di pikiranku.
Setibanya di sekolah seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kelas, pelajaran pertama adalah pelajara Ekonomi. Aku mengikutinya dengan serius hingga bel istirahat berbunyi. Pandanganku terarah ke luar kelas dan aku melihat pemandangan yang tak ku sukai, membuat hati ku sesak, membuat mataku berair. Aku melihat dia mengobrol dengan penuh kebahagian dengan seorang wanita.
“Nai, kamu tak apa?” tanya teman sebangku
“eh iya” jawab ku menunduk
Saat kejadian itu aku tak fokus mengikuti pelajaran sekolah. Hari-hari berikutnya pun sama, masih ada luka di hati ini karena perubahan sikap nya. Apakah dia tak mengerti dengan perasaan ku? hingga pada suatu malam saat aku membuka akun jejaring sosial, hati ku semakin terluka. Dia, kerangku mengungkapkan rindu pada seorang gadis. Dan pada saat itu sikapnya mulai berubah padaku, mata yang dulu berbinar kini beralih pada gadis lain. Ya aku dapat melihatnya, karena sekarang dia menatap ku dengan tatapan datar. Setelah beberapa hari ku putuskan untuk meneleponnya.
“hallo, Rain?”
“iya, “sapa orang yang ada di seberang
Aku pun terus bertanya tentang perubahan sikapnya, tapi apa yang dia jawab simple. Dia tak menjelaskan sesuatu dia malah mengatakan “PUTUS” satu kata namun sangat perih dan sakit. Air mata tak dapat ku bendung lagi, aku kembali mengingat setiap kenangan yang pernah aku alami bersamanya di mulai dengan dia menyatakan isi hatinya lewat lagu, berjalan-jalan, menguatkan satu sama lain, bahkan yang lebih menyakitkan dia selalu memberikan ku kata-kata manis dan janjinya yang akan terus disampingku dan tak akan meninggalkanku. Aku pun masih ingat pernah suatu malam di telepon dia bernyanyi untuk ku, menyanyikan lagu tidur dan yang lebih membuat ku terluka dia seolah mengubur semua yang pernah dia katakan untuk ku. Tak berbekas. Semua yang pernah di lakukan bersama tak berberkas. Kau meninggalkan ku di saat rasa ini sudah tertancap kuat.
Sebelum tidur ku ambil diary dan pena.
Ternyata benar ini bukan kenyataan, dia pergi membawa impian nya. Dia meninggalkan ku bersama kenangannya yang sulit ku lupakan sehingga membuat air mata ini terus berjatuhan. Membuat hujan yang indah menjadi hujan penuh luka. Dan kau tahu lagunya itu, Sepertinya dia telah lupa. Sakit hati, ditinggalkan pergi :’(
***
February 2013
Hujan kembali turun dengan derasnya. Masih ku ingat, tahun lalu di bulan yang sama dan musim yang sama. Hujan terlihat sangat bahagia, rintikannya membuat nada-nada yang terdengar bahagia. Aroma jatuh cinta. Berbeda dengan sekarang, hujan meninggalkan luka.
Aku berjalan melewati koridor sekolah. Dalam perjalanan aku melihatnya, seseorang yang pernah menghuni hati ku. yang pernah membuat impianku begitu nyata. Ya kerang ku ada disana bersama para wanita. Tertawa, dan mengobrol dengan bahagia. Merasakan hujan dengan suka cita. Aku dapat melihat matanya yang berbinar saat bersama mereka, raut wajah yang penuh ekspresi, terilhat sosok yang hangat. Sangat berbeda saat dia bertemu denganku, mata yang dingin, raut wajah tanpa ekspresi. Datar tak ada tanda-tanda pertemanan.
Sejak hari itu, aku dan dia tak pernah mengobrol lagi. Bahkan saat bertemu pun aku sengaja munundukan wajah karena tak mau melihat wajah dinginnya, yang membuat luka dihati ku semakin dalam. Hari-hari ku jadi tak menyenangkan. Tapi dia, hari-harinya penuh dengan tawa. Tak ada kesepian karena jelas dia mempunyai banyak teman. Aku hanya bisa terdiam, mengamati dari jauh. Melihat kebahagiannya dan merasakan kepedihan hati ku.
Aku melewati akhir SMA dengan kesedihan. Penuh luka. Tapi yang bisa membuatku bahagia dapat menerima nilai kelulusan dengan baik dan berhasil masuk Universitas Negeri pilihanku.
***


 



February 2019
            Sore ini aku berjalan gontai menuju rumah, suasana sore selalu menyenangkan karena pada saat itu aku dapat menyaksikan beberapa orang yang bahagia dengan kehangatannya berkumpul di taman, para istri dan anak yang selalu menatap penuh harap sambil berdiri di depan rumah menatikan suami dan ayah mereka pulang, ataupun anak-anak kecil yang selalu menghiasi jalanan dengan permainannya. Angin dingin berhembus memainkan ujung kerudung yang ku kenakan, hmmm kepalaku menegadah melihat ke langit, tampak awan hitam perlahan muncul. Sepertinya kawanan air akan kembali berjatuhan. Belum dua menit aku berbicara, benar saja hujan turun secara perlahan. Aku tetap berjalan ikut menari bersama rintikan hujan, namun semakin lama rintikan itu semakin banyak dan deras. Aku pun memutuskan untuk berteduh di sebuah pohon yang rindang.
Tak beberapa lama suara motor terdengar dan berhenti tepat di depan ku. Aku tersenyum melihatnya, mata ku terus menatap penumpang yang ada di motor itu. Dengan tegak terus ku amati setiap gerakannya, dan tak terasa ada butiran bening yang membasahi pipiku. Dua orang anak muda yang berseragam SMA itu kembali mengingatkan ku pada seorang yang tak pernah lepas dari hati ini. Kerang ku cinta pertama ku.
Dear diary,
Jumat, 22 Februari 2019
Kau pernah menghiasi hari ku, menjadikan hujan ku terasa indah, menjadikan setiap butirannya menyimpan cerita tentang mu, kerang yang selalu mendampingi sang mutiara...Namun itu tak bisa menjadi nyata, hanya sebatas impian kita dan sekarang menjadi kenangan.
***
           




Komentar

Postingan Populer